Catatan 24 – Matematika

Posted: August 24, 2011 in Uncategorized

Mahasiswa UGM seperti kami terkadang dilihat sebagai kumpulan siswa dengan kemampuan super: di depannya tercantum kata “maha”.

Mungkin karena itulah sering pondokan kami didatangi anak-anak yang ingin belajar, entah mengerjakan PR atau bermain aktivitas yang mendidik.

Di awal-awal lebih sering main UNO. Lama-kelamaan, mereka jadi ketergantungan. Kalau terlalu sering tentu saja tidak mendidik. Akhirnya kami bersiasat. Karena saya yang punya UNO, saya tidak lagi mudah dilobi untuk ikut main UNO atau meminjamkan kartunya. Rindi menggabungkan UNO dengan program TPA. Biasanya setelah selesai satu putaran permainan, mereka membaca surat-surat pendek atau doa sehari-hari.

Untuk mengajar, saya sendiri tidak terlalu sering. Biasanya yang mengajar yang perempuan. Saya pernah, sih, mencoba mengajar, tapi parah, menyesatkan. Hahaha.

Kejadiannya, saat itu malam hari, dalam kondisi listrik rumah sering mati, sering jeglek, sering gelap, ada beberapa anak yang minta diajarin ngerjain PR. Saya mencoba mengajar salah satu anak, pelajaran matematika mengenai bilangan prima. Menemukan angka 49, saya bilang ke anak itu kalau 49 itu bilangan prima! Waduh! Kesalahan ini ketahuan sewaktu anak itu saya oper ke Etta, dan agaknya Etta meneliti pekerjaan nomor-nomor sebelumnya (makasih ya, Ta. Saya perhatikan, ternyata salahnya masih banyak sekali, huehehe J).

Sejak saat itu saya bertekad, kalau ada yang lebih baik, jangan datang ke saya (hahaha, tekad apaan kayak gitu). Maklum, di SMA, terutama di kelas 2, nilai saya selalu paling mentok di kelas dalam hal matematika.

Sepengamatan saya, bocah perempuan datang ke pondokan membawa buku untuk diajarin mengerjakan PR, bocah laki-laki datang untuk sesuatu yang tak jelas ─hal ini bisa merepresentasikan banyak hal antara laki-laki dan perempuan. Bocah laki-laki yang sering main ke pondokan adalah Agus, Aan dan Koko. Biasanya mereka mencari Rindi.

Dengan Rindi mereka melakukan banyak permainan bermanfaat yang mencerdaskan: main hang man, binggo, sampai mewarnai (meskipun cuman mewarnai biasa, mereka minta hasil kerja mereka dinilai lho, dan mereka senang sekali dapet nilai). Sementara kalau datang ke saya, mereka minta main bola (hal yang sangat membuat senang tapi capek  + haus luar biasa di bulan puasa, sementara mereka masih enak, masih dalam masa-masa boleh tidak puasa).

Memang agak gampang-gampang susah untuk melayani bocah-bocah yang main ke pondokan. Kalau siang agak sore, biasanya kami lelah dan ingin istirahat. Pak Dukuh, bapak pondokan kami, sampai pernah mengusir anak-anak itu, disuruh pulang, mungkin karena tahu kami butuh istirahat. Tapi namanya anak-anak, tetap saja main di situ, bertahan. Kalau malam, juga cukup banyak PR program yang harus kami kerjakan.

Tapi, toh, kami melalui semuanya dengan baik. Dan bagaimana pun kami tetap sayang mereka, sangat sayang.

Salam PPM!

Foto: Di ruang tamu, tidur kecapekan, setelah mainan sama anak-anak. Rindi tidur menghadap selatan. Imul menghadap utara. Terlihat dua gundul, Koko dan Agus, yang tidak mau pulang-pulang meski sudah diusir Pak Dukuh, tetap tekun mewarnai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s