Kesalahpahaman menarik yang terjadi adalah tentang nganggur & ngeceng.
Tentang nganggur dialamiAgra, kormasit 2.
Waktu itu ia sedang tidak ada kerjaan. Istilahnya, sedang istirahat ongkang-ongkang. Tiba-tiba ada seorang warga, laki-laki, lewat di depannya dan bilang, “Nganggur, Mas…”
Agra yang memang sedang tidak sibuk apa pun menjawab, “Ha nggih, kula nganggur.”
Ternyata nganggur itu bukan sekedar sapaan atau basa-basi, tapi ajakan…minum-minuman keras!
Hahahaha. Apakah Agra melayani ajakan itu?
Tentang ngeceng dialami saya, kormanit.
Awalnya saya berkenalan dengan pemuda desa sana, berinisial A. Orangnya rajin tadarus, berangkat ke masjid, dan nonton konser ST 12 (saya pernah diajak nonton konsernya di ibukota kabupaten, jauhnyaa). Dia sering ngobrol-ngobrol sama saya. Waktu ngobrol di masjid pagi-pagi, sehabis subuh, dia mengajak saya…ngeceng!
Lokasi pengecengan adalah di jalan besar depan desa, dan di tempat yang tinggi di utara di mana kita bisa melihat kota dan cahaya-cahayanya yang indah. Kata A, banyak cewek-cewek yang bersliweran, dan penampilan motor yang ngetril-ngetril alias njamping-njamping.
Hedeh, saya diajak nyari cewek cara begituan. Apa jambang tipis saya kurang menampakkan wajah alim? Apa saya nampak seperti laki-laki yang kurang laku sehingga perlu ngeceng segala? Hahaha.
Saya menolak dengan alasan yang baik dan benar. Teman-teman sekalian, gak usah ikut-ikutan yang namanya nganggur & ngeceng ya. Tadarus saja yang rajin.
Salam bermanfaat!