Surat dari Teladannya Teladan
The 25th Carnival
Surat dari Teladannya Teladan
Teladannya teladan adalah salah satu gelar paling prestisius yang menggabungkan seluruh keseimbangan kualitas kepribadian untuk memperolehnya. Dia tak diberikan kepada sembarang orang. Benar-benar tak sembarang orang. Kecerdasan, kesupelan pergaulan, prestasi akademik, keaktifan organisasi merupakan penilaian standar yang telah kami tetapkan.
KOSTADIP sibuk dengan segala persiapannya. Tak mudah memang sebagai MPK, kapabilitas kami pun dipertaruhkan dalam pemilihan Teladannya Teladan ini. Pendapat dari beberapa orang guru dapat memperkuat argumen kami nantinya. Dari beberapa calon, hanya terpilih dua siswa peraih Teladannya Teladan. Kulihat nama-nama calon di papan tulis whiteboard di GRHA. Mereka semua orang-orang hebat, cikal bakal para pahlawan bangsa Indonesia ini. Pahlawan besar yang dinantikan sekian lamanya untuk membuat bangsa ini lepas dari keterpurukan.
Pernah ada seorang Teladannya Teladan yang sangat luar biasa. Dia seorang wanita. Orangnya cerdas, aktif di kelas, tentu termasuk jajaran elit murid terpandai. Dia sering membanggakan Teladan dengan kemenangan yang gilang-gemilang dalam berbagai kejuaraan. Dia juga aktif dalam kegiatan-kegiatan organisasi sekolah. Orangnya baik dan ramah. Dan yang membuat takjub semua hal hebat itu dimiliki oleh seorang wanita yang tiap hari beringsut-ingsut naik sepeda ke sekolah padahal rumahnya ada di daerah Parangtritis dekat laut sana. Kau tentu bisa mengira-ira seberapa jauh jarak SMAN 1 Teladan-Parangtritis. Kedua orangtuanya tergolong tidak mampu dan untungnya sekolah memberikan beasiswa.
Itu semua bukti bahwa kandidat Teladannya Teladan bukan orang sembarangan. Dan pemilihannya pun tidak bisa main-main. Aku sendiri butuh waktu cukup lama untuk memilih dua diantara sekitar delapan calon yang ada. Semuanya memiliki kualitas kepribadian yang mengagumkan. Akhirnya beberapa hari kemudian, barulah terpilih dua siswa Teladannya Teladan. Kami berencana akan menyerahkannya saat acara Tutup Tahun. Menunggu saat itu tiba, kembali kami disibukkan dengan program-program MPK lainnya.
۞ ۞ ۞
Waktu yang dinanti pun tiba. Detik demi detik berjalan lambat, namun hari-hari terasa berjalan sangat cepat. Aku bersiap-siap di belakang panggung bersama banyak panitia dan pengisi serta crew acara yang terlihat sibuk dengan urusannya masing-masing. Tentu, ada pula peraih Teladannya Teladan. Nantinya penghargaan Teladannya Teladan akan diberikan di atas panggung diikuti penghargaan Guru Teladan dan MPK Award, dua program MPK lainnya.
Tibalah saatnya, seorang kru menyuruhku keluar tampil di atas panggung. Tentu bermacam-macam rasa mengaduk-aduk hatiku. Ada malu, tapi ada juga bangga. Ada gugup tapi ada juga merasa keren. Sangat membingungkan. Padahal, tugasku di atas panggung hanyalah pemberi penghargaan. Bukan penerima gelar prestisius itu.
Pembawa acara pun membacakan peraih penghargaan Teladannya Teladan. Dengan penuh mimik misterius pada awalnya, pembawa acara berpenampilan warna warni bagaikan lolipop itu membaca keras-keras peraih penghargaan itu. Suara mereka terlihat menggembirakan dan meriah. Bagaikan komentator sepakbola yang menyaksikan gol cantik dari sebuah pemain suatu tim sepakbola.
”Peraih penghargaan Teladannya Teladan adalah … Isnan Hidayat dari kelas X.6 dan Fauziah Nur Wardani dari kelas XI.IPS …” Tepuk tangan pun bergemuruh lantang di gedung pertunjukkan STIM YKPN itu. Sangat meriah. Mereka seperti melihat artis-artis atau orang-orang yang mereka kagumi. Layaknya melihat idola mereka. Aku tersenyum. Aku mencoba memberi senyuman terbaik yang aku miliki. Ternyata, kami, Majelis Perwakilan Kelas, tak selamanya dicela, tak selamanya diacuhkan. Ternyata, teman-teman kami sangat banyak, kulihat tak ada wajah cemberut diantara mereka. Semuanya senang. Antusias. Bergairah. Bangga.
Tapi satu hal yang aku pertanyakan, bagaimana perasaan dua Teladannya Teladan itu. Apakah sama sepertiku, ataukah lain. Sampai saat ini, aku hanya bisa menerka-nerka.
Selanjutnya perhelatan pesta tutup tahun akhirnya menampilkan parade kesenian kakak kelas 2007. Sungguh mengagumkan. Aku menyaksikan salah satu peristiwa paling dahsyat dan mengharukan yang pernah dilakukan kakak kelasku.
Mereka menampilkan sebuah drama berseri yang sebelumnya ditampilkan dalam bentuk film. Mungkin bisa disebut film komedi. Film yang sangat lucu dan menggembirakan dengan judul mengadopsi dari judul film bioskop tersohor karya anak negeri Janji Soni. Kesetiaan Soni yang ceking kurus bagai tiang penyangga dari kayu yang lusuh diterpa badai dan sahabatnya yang gemuk menandakan kemakmuran dan kesuburan merupakan salah satu bentuk kebesaran Allah dalam mengaruniakan arti persahabatan bagi manusia.
Pada akhir tampilan semua kakak kelas yang hadir lantas berdiri menghambur berkumpul menyesaki panggung perhelatan. Sangat semarak. Mereka semua bernyanyi dan berfoto bersama. Keharuan sesaat terlihat dalam wajah-wajah itu. Ada tawa lepas, tangis tak tertahankan, keceriaan yang tak bisa ditutup-tutupi, meluap-luap hampir tak terkendali. Semoga ini merupakan awal kebersamaan yang sesungguhnya. Melihat apa yang ditampilkan, mereka mewarisi semangat persatuan dan kesatuan yang ’seharusnya’ diajarkan Pak Andar dalam bidang mata pelajaran PKn. Aku bergumam, ”Ah, apa kami, angkatan 2008, bisa seperti mereka…”
Perhelatan Tutup Tahun diakhiri oleh grup band asli Jogja, Crossbottom, dengan single unggulan yang berjudul 9 Tahun. Sembilan tahun rasanya tak kuduga jadi sia-sia. Kuberjuang demi cinta kini sudah tak ada artinya. Kau telah berpaling menjauh dariku. Begitulah cinta Kawan, deritanya tiada akhir.
۞ ۞ ۞
26 Oktober 2006. Satu hari sebelum hari ulang tahun.
Aduh…hari ini aku pusing sekali.Aku mulai merasakan setelah bermain bola bersama anak XII IPA 5 di lapbas sewaktu jam istirahat pertama. Kelasku dan kelas XII IPA 5 memang sering melakukan friendly match kalau kebetulan ada bola sepak di lapbas. Sama seperti waktu istirahat pertama hari ini. Tapi tak seperti biasanya. Setelah usai futsal, aku merasakan kelelahan yang amat sangat. Padahal hanya beberapa menit aku bermain. Napasku lebih terengah-engah, capek sekali, dan kepalaku merasakan kelelahan yang bukan main rasanya. Aku mencoba bertahan dikelas. Kalau cuma untuk melihat dan mendengar, kukira aku masih kuat Walaupun suara guru kimiaku yang biasa menyelingi pelajaran dengan khutbah, Mrs Rose,jadi tak sejelas biasanya. Tak jarang kusandarkan kepalaku di atas meja.
“ …Ya,nomor 9, reaksi di katoda apa?…”
“ …Al tiga plus ditambah tiga elektron menjadi Al…”
“ …kita cari e nya…”
“…satu farad berapa?Ya benar,sembilan puluh enam ribu lima ratus coulomb…”
Samar-samar kata-kata Mrs. Rose mampu menyihir naluri belajarku. Pelan-pelan otakku mampu menerjemahkan istilah-istilah kimia dan rumus-rumus genius faraday, tatanama hidrokarbon, reaksi-reaksi hebat elektrolisis dan materi lainnya. Satu yang selama pelajaran selalu kupikirkan : bel pulang, aku akan langsung menuju masjid. Tidur. Istirahat. Sembari menunggu waktu sholat Jumat.
Love of my life… you hurt me …
You broken my heart…and now you leave me…
Samar-samar, organ korti di telingaku menangkap suara parau yang sangat biasa. Karena keadaanku sedang pusing, suara itu seperti palu godam yang meneror kepalaku. Aku tahu siapa pemilik nada tak bernotasi ini. Aku menoleh ke belakang. Benar tebakanku. Bima. Kulihat mimik wajahnya. Mimik wajah yang menyebalkan.
Love of my life… don’t leave me…
You’ve stolen my love… and now desert me…
Wajah Bima semakin terlihat sendu-sendu syahdu. Selain aku tak ada yang sudi melihatnya, hanya menghabis-habiskan kalori. Lagu berjudul love of my life karya band rock Queen itu dinyanyikan dengan penuh penghayatan. Alunan yang seharusnya bernuansa sedih romantik ala seorang pria yang ditinggal kekasihnya diubah menjadi alunan tanpa keselarasan nada dan tempo ala seorang pria yang dipukul beramai-ramai di pasar karena ketahuan mencuri sayuran mbokdhe-mbokdhe. Dan parahnya, rasa kantuk, lapar, dan haus di tengah hari merupakan momen yang tak cocok untuk mendengarkan suara bernada liar Bima. Kepalaku makin nyut-nyut saja. Tekanan batin dari teman-teman yang lain tampaknya mulai terlihat.
“Bim, diem tho!” pinta den ayune Dhara dengan rasa jengkel.
Menurutku percuma saja menyuruh dia berhenti. Dalam keadaan wajah yang sudah mencapai syahdu level 4 seperti itu, dia termasuk slow rock singer yang masuk dalam golongan tak tahu malu, tak tahu diri, dan tak tahu bahwa dirinya sangat lebih merdu bila diam seribu bahasa saja. Atau lebih bagus jika ia mengalunkan liriknya dengan nada ketika bicara biasa. Kenyataannya benar. Suara merdu Freddie Mercury tertelan karam oleh suara Bima yang makin liar tak terkendali. Petir kala hujan badai yang bersahut-sahutan seakan terasa lebih indah saat ini. Kasihan arranger lagu ini.
You’ll remember when this is blown over
and everythings all by the way
when I grow older
I will be there at your side
to remind you how I still love you
I still love you
Nadanya makin tak keruan. Oktafnya meloncat-loncat kesurupan. Aku senewen menengok ke arah Bima sebentar. Bima pun menatapku. Seketika itu juga dia seperti mempersembahkan lagu itu kepadaku. Ketika menyebut kata ‘heart’, dengan mimik sejuta harap dia menaruh kedua tangan di tengah dadanya, mendekap penuh hasrat dengan tatapan sok lembut kepadaku. Dan ketika menyebut ‘you‘, dengan gaya teatrikal kibasan tangannya menjulur ke arahku. Inilah yang dinamakan terlalu Kawan. Sialan. Dia malah mengumpamakan aku sebagai kekasih yang tega meninggalkan dirinya. Remy, teman sebelahnya, menyilangkan jari telunjuk tangan kanannya di depan keningnya berkali-kali. Aku segera berpaling melihat tingkah naifnya.
Back hurry back
Please bring it back home to me
Because you don’t know
What it means to me…
Teet….teet…teet. Tiga kali bel berdering. Bel pulang sekolah.
Akhirnya konser liar itu terhenti. Wajah syahdu tak peduli Bima kembali pada mimik aslinya. Semua tampak lega.
Aku langsung bergegas keluar. Seperti pikiranku sejak awal. Aku langsung menuju ke masjid. Melepas sepatu dan membaringkan diri berbantalkan sarung milik seorang teman. Nyaman
Tiba-tiba, handphone nokia 6070-ku bergetar. Getarannya lebih dari dua kali, berarti ada telpon. Ternyata benar. Kulihat name-nya : Fauziah_tldn. O iya aku lupa. Aku hari ini ada janji dengannya. Selasa tempo hari lewat layanan cepat teknologi abad ini short message service aku memintanya menumpahkan kesan pesannya mengenai Teladannya Teladan
“Assalamu`alaykum. Halo. Uzi ya? Afwan aku lupa,ketemuan dimana ya?”
“Wa`alaykumussalam”, jawab suara lembut diseberang sana ,”katanya di lobi…”
Ah sial, pakai lupa segala. Dengan sedikit melupakan pening-ku, aku bergegas ke sana. Dia pasti sudah beberapa menit menungguku di lobi. Sesampai disana, senyumnya merekah menyambutku. Aku membalasnya. Ada rasa tak enak dan malu disenyumku. Aku kembali berucap maaf. Dia menyerahkan selembar kertas folio.
“Makasih ya Zi!” ucapku lalu beranjak pergi.
Kubaca surat dari teladannya teladan. Keingintahuanku tentang perasaan orang terbaik di SMA 1-ku selama ini terwujud. Beginilah bunyi tulisan rapi nan indah di kertas folio ini :
Teladannya Teladan. Sebuah apresiasi agung bagi siapapun yang pernah dianugrahinya. Wujud kepercayaan dari orang-orang yang mengindahkan sesuatu bukan dari kesempurnaan,yang juga tidak mengabaikan segala kekurangan juga keterbatasan namun memandangnya sebagai proses menuju bijaksana.Setiap orang yang menerimanya biasanya tidak punya bayangan sebelumnya. Hal ini yang menjadikan penghargaan Teladannya teladan menjadi hal yang luar biasa.
Inilah penghargaan yang membuat banyak kantung mata mengeluarkan kristal-kristal cair yang dikandungnya, yang mencipta degup cepat dan desir hangat di balik tulang iga, yang menggetarkan lisan dan melimbungkan badan. Sebuah nikmat dari Allah sekaligus ujian.
Di satu sisi penghargaan Teladannya-teladan tampak begitu indah dan melahirkan rasa bangga bagi setiap orang yang menerimanya.Siapa yang tidak bersenang hari mendapati dirinya dipercaya sebagai figur teladan bagi teman temannya?Siapa yang tidak mensyukuri anugrah Tuhan yang menyetuskan rasa bahagia di hati orang tua?
Namun disisilain penghargaan ini juga terlihat begitu menakutkan. Begitu paradoks. Dalamartian kualitas diri sendiri tidak sepadan dengan apa yang diterima. Apalagi begitu menyadari konsekuensi kedepan.Telepas dari dua sudut pandang itu,terdapat suatu kepastian. Ada amanah besar yang bersemayam dalam penghargaan ini. Amanah tersebut adalah usaha yang harus dilakukan untuk memposisikan diri sebagai teladan dan mempertahankan keteladanan dalam jangka panjang.
Penerimaan penghargaan ini diriku bahwa ada potensi lebih yang aku miliki. Kesadaran tersebut menumbuhkan semangat untuk senantiasa memanfaatkan potensi tersebut dengan cara selalu berusaha memberikan manfaat untukorang lain. Penghargaan ini sangat bermanfaat untuk memotivasi masing-masing personal di SMA 1 untuk menjadi yang terbaik. Oleh karena itu, aku berharap penghargaan ini tetap ada pada tahun depan bahkan setiap tahun.
- -Fauziah Nur W-
Diam-diam aku berandai-andai. Mungkin kalau aku bukan anggota MPK, akulah yang akan terpilih. He..he.. Ugh..narcissnya.
۞ ۞ ۞
Seusai sholat Jumat, seperti janji kami minggu lalu, Isnan menemuiku. Sama seperti Uzi, aku juga meminta peraih teladannya teladan kelas X itu untuk mengungkapkan kesan pesannya. Dia menyerahkan kepadaku kertas folio yang berisikan tulisan ketikan komputer dengan aturan standar : Times New Roman, spasi 1, ukuran 12.
Aku maklum ketika mengamati dan membacanya .Mungkin aroma ibu guru bahasa kami, Ibu Sudarsih, sedikit mempengaruhi gaya tulisannya. Tulisan yang dibuatnya lebih menyerupai sebuah pidato .Ada salam pembuka, bagian pembuka, bagian belakang, dan salam penutup. Sangat Bu Darsih sekali. Kupikir dia telah mendapat nilai yang bagus dalam tugas pidato. Seperti inilah bunyinya :
Assalamu`alaykum warahmatullahi wabarakatuh
Puji syukur senantiasa kita persembahkan kepada Allah SWT,Rabb kita,Illah kita, sesembahan kita, dan satu-satunya tempat bergantung di hidup kita. Dia-lah, Yang Menguasai Hari Pembalasan, dan Dia-lah Yang Maha Adil dan Maha Bijaksana. Dia-lah satu-satunya Dzat Yang memberi petunjuk dan Maha Pengasih serta Maha Penyayang. Dia-lah Penentu Segala Kejadian dimuka bumi ini.
Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita, idola dan tokoh favorit kita, uswatun khasanah kita, Rasulullah Muhammad SAW. Beliaulah yang membawa lentera peradaban, sinar terang cahaya Islam, serta obor semangat Ukhuwah Islamiah bagi seluruh umat Muslim. Beliaulah manusia yang paling mencintai dan menghawatirkan kita. Semoga syafaatnya, dengan izin Allah, menjadi penyelamat keluarga, ahli warisnya, sahabat-sahabatnya, tabi`innya, attabi’at tabi’innya, orang-orang yang syahid dan selalu berittiba’ kepadanya, serta kita semua. Amin.
Bangga, terharu, dan bersemangat, itulah yang saya rasakan ketika mendapat penghargaan Teladannya-Teladan MPK Award. Bangga karena merasa mendapat penghargaan Teladannya Teladan adalah suatu wujud prestasi. Terharu karena penghargaan tersebut adalah suatu amanah yang sangat berat. Serta bersemangat untuk membuktikan konsistensi dan peningkatan, bukan hanya karena menginginkan penghargaan.
Saya berharap penghargaan MPK Award ini tetap diselenggarakan tiap tahun mengingat urgensi dan pentingnya penghargaan ini. Penghargaan ini bukan ditujukan untuk mencari siapa yang terbaik, namun sebagai pemacu setiap siswa di SMA 1 ini untuk tetap konsisten menjaga keteladanan dan kedisiplinan, baik dalam belajar, berorganisasi, serta beribadah kepada Allah. Semoga penghargaan ini bisa terus membawa manfaat bagi selkuruh siswa SMAN 1 Yogyakarta.
Oleh karena itu,hendaknya penghargaan ini memiliki suatu sistem yang jelas agar mampu menghasilkan produk yang terbaik pula.Mulai dari publikasi kegiatan, pemilihan calon, penilaian dan penjurian dan proses menuju pemberian penghargaan sebaiknya diperbaiki dan ditingkatkan lagi. Perbaikan ini baik berupa kualitas prosesnya maupun efektivitas waktunya. Karena untuk menghasilkan suatu produk yang baik dibutuhkan kerja keras dan usaha yang maksimal dariukita semua.
Demikian hal-hal yang dapat saya sampaikan.Mohon maaf atas kekeliruan dan kesalahan yang ada, atau adanya kata-kata yang kurang berkenan. Semoga Allah senantiasa memberikan petunjuk kepada kita semua, menuju ke makna keteladanan yang kita cita-citakan.
Wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh
TELADAN JAYAMAHE!
TELADAN JAYAMAHE!
TELADAN JAYAMAHE!
۞ ۞ ۞
27 Oktober 2006.
Sejak dini hari tadi tubuhku menggigil. Rasanya kutub belahan utara bumi pindah ke kamarku. Kusentuh kening dan leherku. Panas tak kepalang tanggung. Hawa panas dingin berkomplot menyergap dan menyusupi pembuluh darah dari ujung kepala hingga ujung kaki. Aku sakit hari ini, di hari ulang tahunku.
Aku memutuskan untuk tidak masuk sekolah. Dua buku catatan matematika milik kedua temanku satu kelas yang kupinjam dua hari yang lalu terpaksa tak bisa kukembalikan sesuai janji. Sebenarnya aku berencana menyelesaikannya pagi ini. Akhirnya aku mengirimkan sms kepada Novia yang isinya permintaan maaf dan minta tolong hal ini dikabarkan juga kepada Dhara. Aku meminjam dua buku catatan itu dari mereka. Jadi agar lebih hemat pulsa aku meminta Novia untuk memberitahu Dhara sekalian. Aku harap mereka maklum atas kondisiku.
Ternyata perhatian dari sahabat tak terbatas oleh ruang dan pertemuan saja Kawan. Tak bisa terpisahkan. Meski aku tak berangkat sekolah beberapa sms ucapan selamat dan doa berderet-deret masuk di handphone-ku. Inilah diantaranya :
oia, tmbh tUa..jd sakit yaA?!Hi3 met haRi LahiR 18!
Smg sLL diridhOi 4WI dan mdpt cintaNya..amin
Its so diffcult to b said,, N I dont know how 2 make
these words heard beautiful, Hppy birtdy, aKHi
HopE 4WI I BleSS u alWAys,
HoPE yoUR daY b Come bttER than b4,
HoPe 4WI I gIVes all th thiNGs u want,
Selamat ulang tahun
Smg Alloh karuniakan jiwa istiqomah pd nt.
Smg pula kbhagiaan selalu membersamai
langkah nt.
Sms terakhir di atas yang dikirim oleh seorang teman yang kini tinggal beratus-ratus kilometer jauhnya bagiku amat menyejukkan. Entah kenapa, setelah kini jauh aku merasa rindu padanya. Padahal baru beberapa hari kemarin ia pulang dan kami ngobrol bersama di musholla. Ini rindu yang berbeda dari cinta klise sepasang pria dan wanita. Bahkan yang sedang mabuk kepayang sekalipun. Aku dihinggapi semacam perasaan rindu yang aneh, sebuah rasa rindu bentuk lain yang belum pernah kualami sebelumnya. Mungkin inilah rindu persahabatan yang diberkahi Allah dan didoakan malaikat di seluruh penjuru langit dan taman-taman surga di atas sana.
Aku memang tak akan mungkin melupakan dia. Dialah yang pertama kali membuatku berani bermimpi. Mimpi, yang sebelumnya bahkan tak pernah terpikirkan dalam benakku bahwa seseorang harus memiliki mimpi dalam hidupnya. Dia membuatku merasakan vitalitas sosok raksasa yang sedang tertidur dalam diriku. Dia berhasil, walau belum sempurna, memaksa sang raksasa di dalam diriku bangkit dan berjanji menggenggam dunia.
Dengannya aku dibuat mengkhayal mimpi setinggi langit ketujuh, menantang seluruh galaksi dan batu-batu langit yang berusaha menghadang lalu melesat cepat melewati miliaran kerlap-kerlip bintang. Aku diajaknya menyelami mimpi yang paling menarik dan misterius, berakselerasi dengan badai waktu yang berputar ganas dengan ombak-ombak liar yang tak terduga. Berada di dekatnya, perasaan orang yang haus akan mimpi dan spirit sepertiku membuncah, ingin segera menyergap segala mimpi. Membuatku saat itu juga merasa menjadi orang paling hebat di dunia, merasa berada di podium kehormatan sang juara kehidupan. Saat di dekatnya, dia mampu membawaku ke persepsi mimpi yang menggebu-gebu. Dan menggiring akal sehatku untuk berpikir bahwa aku mampu menjadi apa yang paling aku cita-citakan saat mimpi datang kepadaku dan menanyakan apa mimpimu. Kujawab, menjadi…seorang duta besar.
Dalam sakit aku tersenyum membaca sms sederhana itu. Dalam sakit perhatian dengan hanya sebuah pesan singkat membuatku laksana tertetesi embun pagi yang menentramkan hati. Dalam sakit aku merasa disayangi dengan arti sayang yang hakiki. Dalam sakit aku merasa Allah sangat mencintaiku.
pdhl cman skedar asal ngeklak-klik mouse ksana kmari .
akhirnya aku dbawa k dalam lembar digital ini .
lmbar yang membuatku merasa ngilu ..
g tw msti ngrasa gmn ..
g tw msti brsikap apa ..
g tw msti komntar kyak gmn ..
smua org tw 2oo7 itu ‘teladan’
dan smua org tw : susah jdi ‘teladan’
ufh ..
tnyata bebanku (dan kwan-kwan) = B E R A T
.i’m 2o11.
vioHime
December 30, 2008 at 12:07 pm
Halo, dek…
salam kenal, I’m 2008
arief bakhtiar darmawan
staf departemen pembinaan KSAI bidang mentoring
biasanya tiap Jumat kalo ada mentoring ke SMA 1 kok….
tapi bukan pas siangnya, pas sorenya.soalnya ada kuliah kalo siang
ayo semangat angkatan 2011!
tiap zaman itu punya tantangannya masing2.jangan dikira kalo angkatan 2007 tu yang terbaik.
ada juga kesalahan fatal yang dibuat angkatan ini
yang terpenting kita sama2 berusaha…
menjadikan SMA 1 sekolah yang benar2 “teladan”!!!
zidan1
January 4, 2009 at 2:14 am
assalamualaykum mas arief .
wah .
iya juga ya .
tpi apa salahnya mnjdikan para pndahulu kita sbagai contoh untuk kita ke depannya .
iya kan ?
wah . iya tho mas ?
oww . klo gitu ayooo ..
mnculkan lgi smangat mentoring ke angkatanku .
maklum mas ..
beda jaman, jdinya pada nganggep mentoring tu nggak penting .
yah .. prsepsi orang kan emang beda-beda .
tpi aku pngen bget nunjukin ke temen-temenku (yang males mentoring) klo mentoring itu ada sisi positifnya untuk kita .
hmm ..
tryin to survive in teladan !
*djawab di emailku jga bisa kok ms
vioHime
March 7, 2009 at 3:01 pm