My Weblog

Senopati Perang Gerilya Semesta

leave a comment »

The 21st Carnival

Senopati Perang Gerilya Semesta

“CITA-CITAKU adalah menjadi seorang jenderal!!!”

Kataku sedikit berteriak kepada kakekku ketika ditanya tentang cita-cita. Dalam kapasitasku sebagai anak sekolah dasar kelas lima, memilih cita-cita masih terasa mengasyikkan. Tak pernah terpikirkan betapa susah menggapai cita-cita. Yang kutahu belajar yang rajin, pandai, dan akan kau gapai cita-cita yang telah kau ikrarkan. Ketika aku masih kecil, aku memang terkesima kepada sosok tentara yang gagah, kekar, berseragam loreng-loreng dengan membawa senapan berlaras panjang dan pisau di pinggangnya. Di mataku sangat berkelas. Apalagi di dekat sekolah taman kanak-kanakku terdapat markas tentara dan ketika aku lewat di depannya tampak beberapa pemuda ganteng dan gagah dengan model rambut cepak yang sama sedang melatih fisiknya. Mereka adalah prajurit-prajurit bangsa yang dibanggakan di bawah naungan Burung Garuda Pancasila.


Kakekku juga mantan tentara. Model rambutnya masih memperlihatkan hal itu : model rambut dua satu satu. Begitu istilahku. Maksudnya dua untuk rambut atas, satu satu untuk rambut samping dan belakang, dua satu satu adalah perbandingan panjang rambut dalam sentimeter. Di tangan kanan kakek yang besar dan kasar terlihat tato bergambar keris dengan tiga lekuk. Terlihat sangat berani. Bila aku ke Semarang, biasanya saat libur Lebaran atau libur sekolah, kakek sering bercerita tentang perang-perang yang dahsyat di seantero penjuru dunia. Beliau termasuk tentara yang cerdas dengan cerita yang tak ada habis-habisnya. Selain itu beliau taat beribadah, juga sangat nasionalis. Pengetahuan kakek sangat luas. Sampai saat aku menginjak SMA, aku diajaknya berkelana ke dalam ekstase sejarah-sejarah keras di berbagai belahan bumi. Cerita tentang Cato -sang senator Romawi yang ambisius-, Kepahlawanan Leonidas dari Yunani, tengelamnya kapal tempur Prince of Wales dan Repulse ’hanya’ oleh pesawat-pesawat terbang -yang pada saat itu dikatakan ’tidak mungkin’-, kediktatorannya Mussollini yang bersifat fasis, sebuah monsterverbond (persekongkolan jahat) Hitler dan Stallin, Gerakan Maquis Perancis dan het Illegale Verzet Nederland yang dikenal di Spanyol sebagai ’kolone kelima’, Parade kemenangan Sang Supreme Commander -Aung San- di Burma, Gerilya Panglima Besar Jenderal Soedirman, Biografi Sang Dwi Tunggal Soekarno-Hatta, sisi positif mantan presiden Soeharto, kebrutalan Hulagu Khan dari Mongolia, kecerdikan Pedang Allah yang Terhunus –Khalid bin Walid- dalam perang melawan Romawi, kegigihan ofensif Oruzgan dan kompatriotnya, pesona Cleopatra –Sang penakluk Kaisar Romawi-, gerakan amfibi di Gallipoli-Dardanella, peperangan hebat Iwo Jima (sampai-sampai seorang wartawan Chicago Times berkomentar : there’s more hell in there than I’ve seen in the rest of this war put together) dan cerita menarik lainnya. Uniknya, semakin sering kakek becerita semakin aku bahwa masih banyak sejarah dunia yang pernah dibentangkan perlu ditelusuri. Aku semakin merasa kecil dengan ilmu-ilmuku dan semakin memahami sebuah ungkapan : sejarah memperlihatkan bahwa banyak orang tidak belajar dari sejarah.

Keinginanku menjadi seorang jenderal kandas setelah saat masuk Sekolah Menengah Pertama ternyata aku diharuskan memakai kacamata minus karena aku menderita miopi. Aku sangat kecewa. Sejak saat itu aku tidak memiliki cita-cita setinggi langit. Ketika maju memperkenalkan diri di depan kelas aku hanya menyebutkan bahwa cita-citaku hanyalah menjadi pegawai negeri sipil biasa saja. Tak lebih dari itu. Ketika kakek berkunjung ke Yogyakarta, kakek membesarkan jiwaku,

”Jangan khawatir cucuku, masih banyak cita-cita hebat di dunia ini. Masa depan cerah menunggumu beberapa tahun lagi. Kau anak yang cerdas dan bangsa Indonesia akan sangat membutuhkanmu,” kata kakek sangat bijaksana dan bernuansa nasionalis.

Aku masih belum memiliki cita-cita, tetapi kakek seperti biasa menceritakan kisah-kisah hebat tentang peperangan dunia. Sehabis Isya’ di ruang tamu, seperti biasa kakek duduk di sofa hijau dengan hanya memakai kaos singlet putih dan bersarung. Gayanya seperti Patih Gadjah Mada sedang memberikan arahan strategi perang kepada jenderal-jenderalnya di kursi bergaya kolosal, seperti yang diputar di televisi-televisi swasta. Aku duduk saja di lantai, seperti shaolin yang bersiap menyimak jurus-jurus baru dari sang guru untuk memberantas kejahatan.

”Kakek akan tetap bercerita tentang peperangan meski kau tak lagi bercita-cita menjadi seorang jenderal. Perhatikan baik-baik dan ambil pelajaran lainnya dari cerita kakek.”

Kata-kata ’perhatikan’ memiliki arti penting bagiku karena dalam cerita kakek banyak bahasa asing, istilah, dan ceritanya agak sedikit rumit serta butuh konsentrasi ekstra untuk ukuran anak kelas satu Sekolah Menengah Pertama sepertiku.

”Kau pasti tahu New Guinea, Papua Nugini,” cerita dimulai dengan sebuah pertanyaan retorika.

”Di sebelah timur Papua Nugini terdapat sebuah kepulauan. Nama kepulauan tersebut adalah Kepulauan Solomon. Nah, di salah satu kepulauan itu terdapat salah satu pulau yan bernama Pulau Guadalcanal. Dalam Perang Dunia ke II, Jepang ingin menguasai kepulauan Solomon untuk memutus lalu lintas Amerika-Australia di Pasifik. Pulau Guadalcanal adalah sasaran pertamanya.

”Tahun 1942, Jepang berhasil mendarat di pulau tersebut tanpa diketahui oleh Sekutu dan segera membangun lapangan udara. Ketika pesawat pengintai Amerika tahu, kagetlah para laksamana Amerika. ’Ini tak bisa dibiarkan!’, begitu pikir para laksamana itu.Guadalcanal adalah posisi strategis untuk menyerang pangkalan-pangkalan Amerika di sekitar Kepulauan Solomon. Maka siapa yang menguasainya bisa menjadi pihak yang menang di wilayah Pasifik itu.

”Kau paham sampai di sini cucuku?”.

Aku mengangguk pelan.

”Amerika segera mendaratkan sekitar 11.000 marinir di waktu malam dengan strategi amphibious operation di bawah pimpinan armada, Laksamana Ernest King. Pendaratan itu berhasil dan lapangan udara juga mampu direbut. Namun ini baru awal cucuku. Pertempuran laut yang pertama terjadi di Pulau Savo, sebelah utara Guadalcanal.

”Para laksamana Jepang suka sekali melakukan serangan mendadak. Surprise. Dan di Pulau Savo elemen surprise berhasil gemilang. Pukul setengah dua pagi, Laksamana Mikawa dari Jepang memberi perintah, “Semua kapal menyerang!Perlu kau tahu cucuku, pada perang ini Jepang menggunakan binocular atau teropong yang superior, peluru cahaya yang disebut Parachute Flares, dan torpedo yang paling ditakuti d seluruh dunia karena ukuran, laju, dan jarak torpedo tersebut melebihi yang dimiliki Amerika.

“Tentu saja serangan mendadak itu membuat para laksamana, komandan, dan awak Amerika yang sedang tidur nyenyak kelabakan bukan main. Satu kapal perang mengetahui kedatngan musuh dan mengirim alarm radio kepada kapal-kapal lain. ‘Warning-warning: Strange Ships Entering Harbour!’. ‘Awas-awas: Kapal-kapal tak dikenal memasuki pelabuhan’, begitu artinya. Tapi sudah terlambat.

“Cukuplah kakek ceritakan bahwa satu jam setelah itu Mikawa meninggalkan pertempuran dengan sekutu kehilangan empat kapal penjelajah yaitu Conterra, Lincennes, Astoria, Quinry, dan 100 jiwa. Kekalahan 100% bagi Amerika,” kata kakek sambil wajahnya menunjukkan ekspresi pias pasrah seakan beliaulah yang menerima kekalahan itu. Aku kagum bagaimana kakek mengingat nama kapal-kapal dari dua negeri hebat itu. Sangat keren, setidaknya bagi bocah seumurku.

“Kakek tidak akan menceritakan satu persatu jalannya pertempuran. Terlalu lama dan kakek ragu kau akan tak bosan mendengarkan. Yang jelas Jepang akhirnya kalah dalam pertempuran keseluruhannya di Kepulauan Solomon. Namun ada sebuah nama Jepang yang harum di pertempuran ini yaitu, Laksda Raizo Tanaka yang memimpin pasukan kapal perusak. Komentator maritim Amerika bahkan memuji Tanaka sangat cerdik, magnificent, persistent. Ini terjadi karena dalam pertempuran laut di Tassafarunga, Jepang hanya memajukan dua kapal perusak. Tapi cucuku, kekuatan begitu kecil itu berhasil melawan lima kapal penjelajah dan enam kapal perusak Amerika. Satu kekalahan pahit bagi armada Amerika yang jauh lebih kuat. Kau bisa mengambil pelajaran bahwa kuantitas tidaklah terlalu penting, kualitaslah yang mampu memenangkan setiap pertempuran.”

Ya, aku paham karena dalam sejarah Islam hal seperti itu pernah terjadi beribu-ribu tahun yang lalu. Tepatnya saat Perang Badar. Perang penasbihan kekuatan Islam melawan musyrikin-musyrikin Mekkah.

Tanaka was super, dia gilang gemilang,” kata kakekku menambahkan.

Kakek mengambil teh di meja dengan tak tergesa-gesa. Menyeruputnya pelan-pelan, meletakkan, dan siap bercerita kembali.

“Sekitar 45 kapal, baik itu kapal induk berat, kapal induk ringan, kapal perusak, kapal penjelajah, maupun kapal selam, karam di Solomon. Kerugian perkapalan di pihak Amerika maupun Jepang hampir sama. Kalau kau nanti, siapa tahu, lewat dengan pesawat terbang dekat laut di sekitar Pulau Savo, ingatlah bahwa laut di sana dinamakan ‘Ironbottom Sound’ atau Selat Berdasar Besi. Sebab laut di situ adalah tempat beristirahat puluhan kapal-kapal tadi beserta ribuan pelaut dan prajurit.

“Setelah perang di Guadalcanal selesai. Laksaman Hasey, seorang Laksaman amerika harus menetukan strategi perang selanjutnya. Ada dua strategi yang bisa digunakan. Strategi merebut pul;au demi pulau atau dikenal dengan istilah island-hopping. Atau strategi melompati beberapa pulau, leapfrogging. Mula-mula Laksamana Halsey menggunakan strategi pertama: sesudah Guadalcanal, lalu Kepulauan Russel direbut. Tapi cara ini memakan banyak waktu, dan tentu biaya yang mahal. Akhirnya diputuskan untuk menggunakan strategi leapfrogging yaitu melompati beberapa pulau. Strategi leapfrogging ini diterapkan pula oleh Jenderal Mac Arthur. Jenderal Amerika sangat bernafsu mengalahkan konkurennya, Laksamana Nimitz, untuk lebih dahulu mendarat di Tokyo dan menunjukkan siapa yang lebih hebat.”

Leapfrogging? Lompat katak! Aku pernah mendengar dongeng berjudul Klein Duimpje, kisah anak cilik yang berhasil mencuri sepatu tinggi dari sang raksasa. Dan dengan zevenmijls-laarzen itu si Klein Dumpje sekali melompat menempuh jarak tujuh mil. Ternyata dalam cerita kakek selanjutnya lompatan Jenderal Mac Arthur menempuh beratus-ratus mil.

“Setelah menguasai Kepulauan Admiralty, Jenderal Mac Arthur dari pesisir Finschafen, sekali meloncat maju lima ratus mil dan tiba di pesisir Hollandia. Maksud sang Jenderal ialah sekaligus melewati sekaligus mengasingkan kira-kira 40.000 tentara Jepang yang berpusat diantara Finschofen dan Hollandia. Karena tentara Mac Arthur lebih kecil dari tentara Jepang yang tersebar di sepanjang pantai utara New Guinea. Taktik leapfrogging adalah menyerang pertahanan yang paling lemah. Maka perlu sekali diketahui keadaan musuh. Di sinilah kehandalan Coast Watchers atau spion-spion Amerika.

“Dari Hollandia, kembali berkat spion-spion di berbagai front pertempuran, Mac Arthur kemudian berkali-kali meloncat sampai akhirnya tiba di Fillipina. Kau bisa lihat kan betapa strategi lompat katak ini begitu memporak-porandakan Jepang. Sesudah perang Jenderal Tojo pernah bilang kepada Jenderal Mac Arthur bahwa strategi leapfrogging itu adalah salah satu sebab penting kenapa Jepang kalah perang.”

Aku mengangguk-angguk, kagum. Dan dari sini aku mendapat pelajaran baru yang sangat berharga dalam kiprahku di dunia wajib belajar: ‘Kalau kau mengerjakan soal ulangan, kerjakanlah soal yang mudah terlebih dahulu. Jangan terpaku dengan soal yang sulit, karena hal itu hanya akan membuang-buang waktu.’

“Lalu, kakek, bagaimana dengan pertempuran di Filipina?” tanyaku antusias.

“Ah, besok akan kakek ceritakan lagi, sudah saatnya kakek beristirahat. Kakek masih dua hari lagi menginap di sini.”

“Janji ya?!”

“Tentu, demi cucuku.”,kata kakek tersenyum sambil bangkit. “Judul cerita kakek besok adalah The Battle of the Phillippine Sea,” lanjutnya penuh rahasia.

Arrow of time. Panah waktu telah membunuh sebagian manusia. Detik demi detik hidup melaju teratur tanpa henti sampai suatu saat yang dijanjikan nanti. Dan telah disabdakan bahwa orang sukses adalah orang yang selalu lebih baik dari detik ke detik, dari hari ke hari. Hari ini aku berharap kebaikan ketika liburan sekolah tiba. Liburan semester pertama kelas tiga Sekolah Menengah Pertama. Aku akan melakukan vakansi ke Semarang. Vakansi yang selalu menyenangkan karena aku akan mendengarkan lagi suara kakek becerita tentang kisah-kisah seru.

Aku rindu pada kakek. Sudah enam bulan sejak liburan terakhirku ke Semarang aku tak pernah bertemu kakek. Enam bulan yang lalu, kakek ke Yogyakarta, menginap selam lima hari. Selama satu jam perhari aku menyimak kakek selepas sholat Isya’di ruang tamu bercerita tentang penaklukan pasukan Islam pasca kematian sang Nabi di benua benua Asia dan Afrika. Dan kali ini aku menanti, apa kira-kira yang nanti akan diceritakan kepadaku.

Perjalanan berlangsung selama tiga jam menggunakan bis patas ber-AC. Aku hanya bersama ibu, sedangkan ayah naik motor. Sampai di rumah sakit Dr. Karyadi, kami akan turun dan akan dijemput untuk menuju rumah kakek di daerah Sampangan. Bus kami membelah lanskap panorama alam Jawa Tengah diiringi sorot matahari yang terasa membosankan.

Aku dan ibuku belum pernah pergi ke Semarang naik bus dan tak tahu dimana rumah sakit Dr. Karyadi itu. Melalui kebaikan seorang penumpang di kursi depan, akhirnya kami dapat turun di rumah sakit Dr. Karyadi dengan lancar. Tisna, adik sepupuku, dan ayah sudah menanti dengan sepeda motor. Ibu dibonceng ayah dan aku dibonceng Tisna. Sesampai di rumah kakek aku disambut amat ramah. Kakek seperti biasa, berpenampilan kaos singlet putih dan bersarung motif kotak-kotak coklat, memelukku hangat dan mengusap-usap kepalaku seperti seorang suhu terhadap muridnya.

“Istirahatlah dulu, kau pasti merindukan cerita kakek. Besok kakek baru mau cerita,” ujar kakek datar. Aku mengangguk dan duduk di ruang tamu. Minum teh dan mencicipi makanan yang terhidang.

“Kau harus bangga menjadi orang Yogyakarta,” kakek membuka cerita. Penampilannya masih sama seperti bertahun-tahun yang lalu : kaos singlet putih, sarung motif kotak-kotak, plus tato keris berlekuk tiga di tangan kanannya. “Di sanalah orang-orang hebat dan besar dalam sejarah bangsa ini berawal. Presiden pertama Soekarno, presiden kedua Soeharto, Sultan Hamengkubuwono IX, dan juga Panglima Besar Jenderal Soedirman.”

“Kakek akan bercerita tentang kepahlawanan Jenderal Soedirman.”

Suasana hening sejenak. Nama yang tak aneh itu sudah sering diceritakan di buku-buku sejarah dan berkali-kali diceritakan guru di depan kelas. Tapi kukira kakek memiliki cerita yang tidak biasa.”

“Akhir tahun 1945, kakek agak lupa. Emmm….iya…….tanggal 12 November 1945. Tentara Keamana Rakyat mengadakan rapat di Gondokusuman. Kau pasti tahu TKR kan?” Aku tidak hanya tahu TKR tapi juga tahu dimana Gondokusuman itu.

“Rapat itu dipimpin Letjen Derip Soemohardjo dan bertema membangun tentara yang kuat guna menghadapi serangan musuh. Selain membahas itu dibahas pula tentang pemilihan Jenderal, panglima TKR di Indonesia. Kau tentu sudah sering dengar tentang keterpecahan pasukan-pasukan perlawanan. Untuk itu diperlukan seorang pemimpin yang memimpin seluruh komando pasukan-pasukan tanah air.”

“Pemilihan dilakukan secara aklamasi. Akhirnya seperti yang sudah kau tahu, yang terpilih menjadi panglima besar adalah……”

“Jenderal Soedirman.” Aku menyerobot. Kakek tak kecewa kalimatnya kupotong.

“Ya…dan hal itu adalah sebuah hal yang luar biasa.”

“Soedirman dikenal ketika berhasil menggempur dan menghalau Inggris di Palagan ambarawa dan ketika berhasil melucuti persenjataan Jepang saat Jepang menyerah tanpa syarat atas Belanda. Itulah mungkin yang membuat sebagian besar peserta rapat memilih Soedirman sebagai seorang jenderal. Lagipula pasukan dan persenjataan Soedirman lebih banyak daripada para komandan yang hadir dalam rapat. Profesi ketentaraannya adalah opsir PETA. Sebagai Daidancho. Profesi sipilnya adalah sebagai pimpinan pemuda Muhammadiyah dan……..Guru Sekolah Muhammadiyah. Kau tahu Nak, dia hanya seorang guru SD. Tak heran Belanda yang tahu akan hal itu lantas mengejek : Indonesia mengangkat seorang guru SD menjadi Jenderal.

“Tapi perlu kau ingat cucuku, diangkatnya beliau menjadi Jenderal bukan suatu kebetulan. Bukan. Sama sekali bukan kebetulan. Hal itu adalah ‘a blessing in disguise’. Rakhmat Illahi yang tersembunyi. Beliau dikenal sebagai sosok pendiam, teguh hati, lemah lembut dalam bertutur kata namun tegas sebagai pemimpin.

“Lebih banyak mendengar tapi cepat mengambil keputusan. Sekali diambil, tak mudah dirubah oleh siapapun,” kata kakek sambil memandang jauh ke luar rumah.

Angin malam semilir masuk melewati pintu yang terbuka. Panas kota Semarang sejenak reda. Aku tak merasa gerah seperti biasanya.

“Dan yang kakekmu terkesan………..Soedirman terpilih menjadi jenderal dalam usia yang terbilang muda. Dua puluh sembilan tahun. Kau bisa membayangkan, menjadi jenderal merupakan prestise yang sangat tinggi. Presiden-wakil presiden-jenderal adalah sebuah triumvirate. Segitiga solid yang tak bisa dipisahkan dalam tegaknya sebuah bangsa. Dalam usia semuda itu, intelegensia Jenderal Soedirman setara dengan kehebatan sang proklamator Soekarno-Hatta. Dan kehebatan intelegensia itu terlihat dalam Perang Gerilya.

“Saat itu terdengar kabar bahwa Belanda akan menyerang Yogyakarta. Maka Jenderal Soedirman -yang baru saja operasi paru-paru dan sebetulnya belum boleh banyak bergerak- memutuskan menerapkan taktik perang Gerilya. Perang Gerilya merupakan strategi jangka panjang dan nonkonvensional. Perang model ini menjadikan desa, hutan, gunung sebagai ‘terugnal basis’, tempat untuk berlindung. Strategi ini pernah diterapkan oleh Rusia kala melayani Napoleon Bonaparte, juga Joseph Bross Tito dari Yugoslavia untuk menghadapi Jerman. Perang Gerilya memiliki dua tugas, yaitu wehrkreise dan wingate. Wehrkreise adalah membentuk kantung-kantung pada tiap distrik yang punya pemerintahan gerilya. Wingate adalah menyusup kembali ke daerah asal.

“Berangkatlah Jenderal Soedirman untuk bergerilya ke Kali Opak dan mulailah petualangan Senopati Perang Gerilya Semesta, pendobrak terakhir penjajahan Belanda. Saat itu kondisi beliau masih lemah. Obat-obatan yang dibawa hanyalah penicilin. Itu pun hanya untuk beberapa hari. Padahal diperkirankan perang akan membutuhkan waktu lama dan perjalanan yang ditempuh juga tidak ringan.

“Dan benar, perjalanan perang gerilya tidak ringan. Apalagi peramg ini terjadi saat musim hujan. Jenderal Soedirman berperang naik tandu yang dipikul empat orang. Perjalanan panjang naik turun gunung, keluar masuk desa menjadi rutinitas yang biasa. Wonogiri, Kediri, Gunung Wilis, Pacitan, Sukowati dijelajahi. Dan Jenderal Soedirman, di tengah perburuan pesawat-pesawat dan pasukan Belanda, tampak tenang walau apapun yang terjadi. Saking kerasnya perang ini sampai-sampai sepatu tua para pasukan jebol karena mendaki gunung penuh batu kerikil. Hujan mengguyur deras berkali-kali. Membasahi seragam seadanya para pejuang gerilya. Jalanan mendaki sempit dan licin. Tak jarang sang jenderal harus turun dari tandu dan mendaki sendiri dibantu dorongan seorang ajudan agar tidak terjatuh. Bahkan di daerah Sedayu, para pasukan gerilya dihadang kabut tebal sehingga hal ini sangat berbahaya karena tak tahu bila tiba-tiba dikepung musuh.

“Selama perang, sang jenderal belum pernah terlihat marah, kecuali hanya sekali. Yaitu pada prajurit yang sampai pada batas daya tahan penderitaan, ‘Siapa yang sudah tidak tahan boleh pulang’, begitu kata-kata tegas sang jenderal. Angin malam yang dingin tak pernah menciutkan nyali-nyali para pejuang. Rakyat di pedesaan, pegunungan, dan pedalaman lainnya, punya andil besar dalam perang gerilya. Tak ada yang berkhianat dengan melaporkan posisi pejuang gerilya pada tentara Belanda. Rakyat sangat cinta kepada tentaranya dan begitu juga TNI, akan membela tanah air hingga titik darah penghabisan.”

Kakek terus bercerita. Aku kagum. Bisa kutangkap bahwa pejuang-pejuang sejati adalah rakyat yang berada di desa-desa, pegunungan, pantai. Merekalah yang berjuang melindungi, menghidupkan, memberantas, dan berkorban bagi TNI-nya yang begitu disayangi. Rasanya Bintang Gerilya pantas disematkan pada mereka. Karena kalau bukan perjuangan mereka, pasti tidak tercapai kemerdekaan yang sejati yaitu negara yang bernama : Indonesia yang merdeka dan berdaulat penuh.

“Belanda takluk. Beliau bersama rombongan pulang melewati lembah Kali Opak,” cerita akan berakhir.

“Dengan Jeep Land Rover, Jenderal Soedirman dijemput untuk kembali ke Yogyakarta.” Perang Gerilya usai. Kemerdekaan mampu dipertahankan. Dan hal ini tentu saja bukan suatu kebetulan, melainkan ‘a blessing in disguise’. Rahmat Illahi yang tersembunyi.

Panglima Besar Jenderal Soedirman wafat pada tahun 1950, meninggalkan sedan. Kini hanya patungnya dari batu alam yang ada. Besar, agung, berwibawa. Patung sang jenderal dengan fashion yang sering terpampang di buku-buku anak sekolah : pakaian khas daerah Ponorogo yang ditutup mantel dan ikat kepala tradisional Jawa, ditambah tongkat perjuangan. Patung sang ‘pendobrak terakhir penjajahan Belanda’. Tiba-tiba aku ingin menjadi jenderal. Jenderal dalam hal apa pun.

Seperti kata Bung Karno : we learn history to be wise for the event. Cerita-cerita kakek terngiang saat aku menghadapi sebuah masalah. Masalah organisasi. Problematika sepele namun vital dalam kenyataannya.

Majelis Perwakilan Kelas sibuk menata peraturan sekolah. Dan yang diperbincangkan serius salah satunya tentang boleh tidaknya membawa headset di kelas.

“Apa tidak sebaiknya headset diperbolehkan saja?” tanyaku kepada majelis rapat sore ini. Beberapa memandangku ganjil. Ini adalah ketiga kalinya sebagai senata prima membuka kasus serupa. Aku telah berdiskusi kepada Bos Besar dan kami berdua ternyata sepakat membolehkan. Niatku tentu saja agar tidak mempersulit dan tidak terlalu mengekang.

“Kita akan membuat peraturan bahwa headset dilarang dipakai di kelas namun tetap diperbolehkan dibawa,” tukasku menambahkan.

Tanggapan pertama muncul.

“Masalahnya, siswi berjilbab bisa menyembunyikan headset di balik jilbabnya. Dan guru bisa sama sekali tidak tahu akan hal itu…”

Dalam majelis rapat hanya aku sendiri yang berpendirian diperbolehkannya headset. Namun aku tak bisa menampik bahwa racun teknologi menggempur tak henti-henti dan endemiknya sampai di bumi Teladan.

Aku tetap gigih pada pendapatku. Bagaimanapun juga, banyak cara untuk mencegah.

“Larangan membawa headset adalah larangan yang terlalu mempersulit,” aku kembali berkata-kata memandangi orang per orang.

“Peraturan dibuat untuk memudahkan bukan untuk mempersulit,” tandasku sekali lagi, ”Kita hanya perlu membuat pelarangan memakai headset atau membaca buku di kelas. Tak perlu pelarangan memakai headset dan membawa buku.”

Tanggapan yang muncul kuanggap hanyalah apologi belaka. Namun aku tahu, teman-temanku itu sebenarnya punya niat yang amat baik. Dasa Dharma Pramuka pernah mengajarkan tentang hormat kepada guru dan elemen ini sekarang berusaha difaktualkan. Aku masih tak dapat menerima tapi aku kehabisan cara meyakinkan mereka.

Tabiatku yang keras pendirian luluh teringat pesan kakek : kalau kau jadi seorang pemimpin nanti, bertindaklah seperti mentalitas AL Amerika yang mengizinkan tiap perwira mengemukakan pendapat strategi yang berlainan dengan pendirian pimpinan armadanya, jangan seperti tradisi AL Jepang yang tak memperbolehkan opsir-opsirnya mengemukakan pendapat lain selain dari strategi umum yang ditetapkan hanya oleh Tokyo. Siapa berbuat juga, boleh rasakan, diturunkan pangkatnya.

Aku mencoba bijak dalam proses pembelajaranku. Pendapat temanku tentu diikuti konsekuensi keputusan mufakat. Keputusan secara demokrasi menutup egoku dan peraturan tetap : headset dilarang dibawa.

Setelah papan peraturan yang telah dibubuhi tanda tangan sakti petinggi sekolah terpampang kokoh di lorang gedung induk, tak sedikit yang protes dengan beberpa peraturan. Selalu ada yang semacam itu, Kawan. Inilah hidup, kita tak akan bisa menuruti keinginan semua orang. Masalah headset tak luput dari incaran kekecewaan.

Berbagai cara telah siap kami lakukan untuk menetralisir masalah. Langkah pertama adalah masuk ke kelas-kelas dan tampil dengan berani menghadapi kritik-kritik kritis dari anak-anak sekelas Teladan. Aku pikir kami telah melakukan ide yang sangat kreatif. Kekreatifitasan itu didalangi oleh KOSTADIP. Ide itu adalah melakukan razia untuk pertama kalinya sekaligus sosialisasi tatib yang baru saja dipampang.

Rencananya kami akan memasuki kelas dan mengadakan razia. Setelah razia, semua barang ditaruh di depan. Kami menjelaskan mengapa barang ini dan itu tak boleh dibawa. Semua alasan yang diperkirakan akan menjadi bahan perdebatan muncul. Suasananya bahkan ada yang tak ubahnya seperti dalam sebuah sidang yang memutuskan pelaku korupsi miliaran dibebaskan begitu saja oleh hakim berwenag, penonton tak puas. Kami berusah menjawab dengan santai dan penuh rasa persahabatan. Sesuatu yang penting karena dalam situasi seperti ini adalah suatu pertaruhan eksistensi dan kapabalitas kami sebgai majelis terhormat. Setelah selesai semua merasa lega. Kami tak lantas menyita barang-barang yang telah diambil. Kami mengembalikannya karena ini adalah aksi peringatan pertama dari kami.

Diam-diam aku merasa gembira. Di sekitar kita ada kawan yang selalu hadir sebagai sahabat sejati penuh rasa sepenanggungan dan kesetiakawanan. Teman-temanku di MPK adalah kawan semacam itu. Aku tak pernah meragukannya.

Written by zidan1

November 17, 2008 at 2:41 am

Posted in Uncategorized

Leave a Reply