My Weblog

Gangster

leave a comment »

The 20th Carnival

Gangster

LABIRIN lika-liku terkadang memang gelap dan membingungkan. Sekarang, aku mengalaminya. Entah mengapa dunia terasa gelap bagiku. Ketika aku bangun tidur mendadak pandanganku kosong. Aku seperti mau ambruk lagi. Aku baru tersadar kalau tekanan darahku terlalu rendah. Penderita hipotensi sepertiku tidak bisa bangun dengan tergesa-gesa. Jika langsung berdiri maka pandangan mata akan berkunang-kunang.


Aku masih merasakan dunia berputar-putar. Lama-kelamaan, pandanganku mulai normal. Aku memakai kacamataku dan melihat jam melalui handphone. Pukul 03.00. Meski sudah melaksanakan sholat tarawih, aku memutuskan ingin melaksanakan shalat tahajjud. Aku ingin termasuk golongan Al Mustaghfiriina bil As-haar, yang menghiba ampun di waktu sahur.

Sambil berusaha meregang-regangkan mata, kuraih sarungku dan Al-Qur’an lalu beranjak keluar. Aku mendengar Deri mengigau, “Ibu…Ibu… jangan pergi … Ibuuuu…” Ingin rasanya aku balik masuk kamar, menggoncang-goncangkan tubuhnya agar melek dan berkata, “Deri! Aku bukan ibumu!” Tapi aku urungkan kesia-siaan itu. Aku meninggalkan Deri dibawah penderitaan mimpi yang (agaknya) memilukan.

Aku berjalan tergopoh-gopoh menuju masjid yang jaraknya hanya tujuh meteran dari kamar tempatku menginap. Sampai ditempat wudhu aku masih bersusah payah mengumpul-ngumpulkan nyawa. Aku menyalakan air keran. Bunyinya cruuusssss…mendengar bunyinya saja badanku mengigil kedinginan. Ditambah angin dingin yang menyerbu, jadilah pagi ini seperti berada di Eropa Utara dekat kutub sana saat musim dingin itu tiba. Hatiku tetap teguh, kusentuh air itu dan kuberanikan diri untuk berwudlu. Beribadah sholat malam memang banyak godaannya.

Usai sholat malam dan menuntaskan hapalan, aku kembali ke kamar. Kulihat jam : 03.20. Sahur pasti sudah disiapkan. Beberapa teman terlihat berjalan beriringan menuju ruang makan. Kulihat Deri masih asyik dengan selimut tebal dan (mungkin) mimpi-mimpi anehnya. Aku bisa menebak kebahagiaan dan kenyamanan itu karena pulau yang dibuatnya semalam suntuk. Meskipun remang-remang dibawah lampu kuning yang cahayanya megap-megap, aku bisa mengamatinya dengan jelas. ‘Pulau’ yang dibuatnya tampak sering kukenal dalam peta. Ya, pulau itu seperti Pulau Bali.

Wow, siapa yang tak senang ke Pulau Bali. Aku jadi menduga sewaktu aku keluar kamar pukul 03.00 tadi dia sedang bermimpi ditinggal ibunya di Pasar Sukowati atau mungkin ibunya mengamuk karena Deri ngotot minta dibelikan mainan mahal di Joger, kemudian ibunya itu langsung pulang ke Jawa dengan berenang dari Pantai Kuta dan mendarat di Pantai Parangtritis.

Aku lantas membangunkan Deri. Bukan karena waktu sahur tiba, melainkan aku tak ingin pulau itu membesar menjadi Pulau Kalimantan. Aku tak ingin mimpi indahnya terganti dengan mimpi kejar-kejaran dengan suku Asmat karena dia sembarangan kencing di hutan keramat tanpa pamrih (Lho?!!) Coba pikir, kawan, apa sih enaknya berlibur di Kalimantan? Menurutku lebih enak di Bali deh. Deri juga pasti akan setuju dengan sikapku yang bergegas membangunkannya. Dan benar, kawan, Deri tak marah kubangunkan (ya iyalah!).

Aku segera sahur bersama peserta PPO dan guru-guru pelita bangsa. Usai sahur aku kembali ke wisma untuk sikat gigi dan menuju masjid untuk shalat. Di masjid aku kagum kepada penduduk sekitar sini. Adzan belum berkumandang namun para penduduk sudah berdatangan ke masjid. Beberapa terlihat sedang shalat sunnah.

“Nanti jadi kan?” Habib bertanya padaku.

Insya Allah, I will try it”. Jawabku (dengan teks yang sudah di-translate Inggris)

How about you?Aku bertanya pada Imul.

Emm… I’m not sure about that,” kata Imul tak yakin.

C’mon, mate. Don’t be like that”. Kataku.

Just this once! “ Habib merayu.

Our journey will not be very fantastic withour you!” rajukku agak gombal.

Okey, Insya Allah. At six o’clock?” katanya sambil membetulkan sarung.

Aku mengangguk bangga. Dia termakan rayuan gombalku (ih, ge-er amat!)

Usia sholat Subuh dan tilawah beberapa lembar aku lantas kembali ke kamar. Kulihat Deri sudah meringkuk dengan tenang. Di dekat wajahnya kulihat “Pulau Bali” mengering. Aku yakin Deri akan membuatnya lagi, karena di mataku dia tipe lelaki yang tak gampang menyerah dan bersemangat mengejar mimpi-mimpinya. Aku sendiri pantang tidur setelah Subuh. Aku berharap berkah pagi tak tertutup bagiku hari ini. Pagi nanti aku akan berkeliling Kaliurang bersama Habib, Wapres dan Imul dengan berjalan kaki. Aku berharap juga hariku akan menyenangkan. Dan yang terakhir, aku berharap nanti aku pulang tepat waktu untuk membangunkan Deri demi keselamatannya dari kejaran brutal suku Asmat seperti sewaktu sahur tadi.

Okay, my friend, C’mon, enjoy!

Kami berempat berjalan dengan santai. Tanpa alas kaki. Toh rasanya nyaman sekali berjalan diatas aspal yang dingin-dingin sejuk. Dari pertigaan jalan yang paling dekat dengan Wisma Puas, kami memilih berjalan ke utara. Jalan ini sangat menanjak. Ya, kebanyakan jalan di Kaliurang memang menanjak. Tahu sendirilah… Kaliurang termasuk bagian dari lereng Merapi. Maka, bersepeda di Kaliurang menurutku adalah hal yang mampu menguji stamina kita. Untuk menjadi kekar seperti Ade Rai, hanya perlu kurang lebih seribu kali per hari selama sebulan penuh mengitari Kaliurang. Atau kalau tak bisa bersepeda, cobalah dorong kereta boong-boongan yang sering keliling tiap siang hari. Aku yakin sekali, kau bahkan bisa mengalahkan Muhammad Ali di masa jayanya.

“Ayo, Mul, agak cepetan dikit”.

Aku menoleh ke belakang.

Dia ternyata sedang sibuk mengupil. Berkali-kali dia menjentikkan jari telunjuk dan ibu jarinya ke sebelah kiri jalan di atas rerumputan. Oh, tiba-tiba saja aku merasa iba kepada rerumputan indah itu. Pagi-pagi sudah diberi santapan jijay oleh kawan karibku. Sebenarnya aku ingin meminta maaf dan membersihkan upil itu dengan rasa hormat, tapi aku tak mau mereka bertiga menganggapku gila. Dan aku sungguh tak mau berurusan dengan upil Imul.

Aku paham, banyak orang yang butuh ngupil. Tapi ngupil yang secukupnya tentu saja. Yang aku tak paham, mengapa ada orang yang ngupil sesering Imul. Menurutku dia sudah over. Setahuku, sering sekali aku melihatnya ngupil. Sewaktu ketemu di jalan, sewaktu mau wudlu sholat dluha, sewaktu mau memarkir motor, sewaktu mau masuk kelas, sewaktu mau ambil kerupuk, sewaktu mau menjabat tangan Bapak guru, bahkan sewaktu menghalau bola saat pelajaran olahraga futsal. Oleh sebab itulah aku tak mau menjadi striker saat harus melawannya (posisi Imul adalah bek). Aku tak mau dijaga ketat dan kemudian dia menarik-narik kaosku setelah ngupil. Kalau dia jadi partnerku aku baru memilih menjadi striker.

Aku sangat khawatir dengannya. Bukan apa-apa, tapi dia telah menjadi penderita ngupil keras berat. Aku khawatir hidungnya mengalami infeksi karena kebanyakan ngupil. Gak lucu kan kalau nanti ada berita, seorang pelajar over dosis ngupil, ditemukan tewas tak berdaya. Apa kata dunia?!?!.

Dari dahulu sekali, sebenarnya aku memendam beberapa pertanyaan sederhana untuk sahabat karibku itu. Aku ingin suatu saat mengatakannya dengan nada bersahaja, “Wahai, saudaraku Imul, tidakkah kau pikir kebiasaan ngupilmu itu terlalu over dan dapat menimbulkan sesuatu yang membayakan jiwamu? Mengapa kau sering sekali ngupil? Apa itu karena bulu hidungmu sangat lebat? Pernahkan kau meneliti tentang pertumbuhan bunga yang kau beri pupuk upilmu? Adakah kau mengerti perasaan bunga yang indah itu? (kok makin ngaco sih!) Berhentilah!”

Sampai hari ini aku urung mengatakan. Aku tak bisa membayangkan dia menjawab pertanyaanku dengan penuh nafsu diiringi tatapan penuh arti seperti ini : “Ananda Abe, temanku, aku tak mungkin meninggalkan kebiasaan nenek moyangku yang sangat mengasyikkan ini. Meninggalkannya sama saja seperti bunuh diri. Kau tak mau kan nada berita di halaman pertama koran-koran ibu kota menuliskan besar-besar : TINGGALKAN ADAT NGUPIL, SEORANG PELAJAR KEHILANGAN NYAWA MENDADAK. Kalau boleh aku malah akan menganjurkan padamu untuk mengupil pakai jempol kaki. Menantang sekali! Ngupil dengan jempok kaki bagaikan bertarung melawan lorong-lorong gelap dalam hidupku! Mengupil telah menjadikanku petualang sejati, menyusuri gua-gua yang ujungnya entah dimana! Jadi, maaf sekali, kawan, permintaanmu tak bisa kupenuhi. Hidup ngupil!! Hidup!!”.

Kami terus berjalan. Kali ini jalanan bukan hanya menanjak, melainkan juga menikung tajam. Tapi hal itu tak mengapa. Yang menjadi masalah sebenarnya adalah anjing yang kulihat kepalanya nongol diantara dinding pagar yang kumuh dan berlumut. Yang menjadikan kami berempat bergidik adalah … pagar pintu masuknya terbuka.

“Guuk… Guk…guk…guk…guk…guk…!”

Anjing itu menyalak dengan semangat 45. Menyadari mara bahaya yang mengancam, tanpa dikomando kami berempat lari pontang-panting dijalan menanjak itu.

“Waaaaa….lari!!!“Imul histeris. Kami ikuti teriakannya. Kami tak mau mati konyol digigit anjing kudisan.

“Guk…guk…Auuuuuu…” Si anjing malah melolong mirip serigala bunting.

“Tolong Emaaak…!!” Habib tak mau kalah.

“Aku dituduh pencuri .… “ Wapres menimpali. Malah gak nyambung. Mungkin dia sudah kehabisan kata. Panik memang sering membuat orang lupa diri.

Dalam pelarian kami itu, aku masih sempat melihat Imul. Ugh, menyebalkan! Dalam suasana kalut begitu masih sempat-sempatnya mengupil. Dan entah kenapa tiba-tiba Wapres sudah ada di depanku. Tadi kulihat dia masih di belakang. Kapan dia menyalipku? Padahal dalam sejarah lari, belum pernah aku dikalahkannya. Sekedar bisa bertahan mengelilingi lapangan dua kali saja sudah bagus untuk Wapres. Di tengah suasana pelarian aku menyimpulkan bahwa semangat untuk hidup memiliki energi yang luar biasa untuk menebus segala hal yang dirasa tak mungkin dicapai.

Dengan semangat hidup yang tinggi kami lolos dari lubang jarum. Masih terlihat ngos-ngosan pada diri kami. Anehnya, kami berempat malah tertawa. Bersama sahabat kisah semengerikan apapun serasa seperti hiburan di Dufan, senagat menyenangkan. (Padahal aku sendiri belum pernah liburan ke Dufan).

Oiya, mungkin kalian ada yang bertanya-tanya mengapa keempat orang baik seperti kami sampai bisa selamat dari peristiwa naas tersebut. Sampai berita ini diturunkan si penulis pun tak tahu apa sebabnya. Tetapi penulis memiliki beberapa diagnosa mengenai berita menggembirakan ini. Kira-kira ada beberapa sebab yang kemungkinan kuat bisa meloloskan kami. Mari kita pilih jawaban berikut ini :

a. Karena kami keren. Bisa saja anjing ngefans sama manusia, trus mau minta tanda tangan (Lho? Kayaknya ini malah penyebab mengapa si anjing ngejar deh!).

b. Karena ranjau upil yang kebetulan dijatuhkan Imul tadi.

c. Karena kami berempat belum mandi sehingga baunya gak ketulungan. Menyiutkan nyali si anjing untuk menyantap tulang-tulang kami.

d. Karena si anjing sewaktu mengejar kami, dipanggil sama emaknya untuk mandi pagi.

e. Jawaban a, b, c, d benar

f. Jawaban a, b, c, d, e salah

Penulis minta maaf bila pilihan jawabannya terlalu sulit dan hampir semuanya mendekati kebenaran. Ya, inilah Indonesia, my friends! Tapi yang jelas kami berempat bersyukur bias melanjutkan perjalanan ke barat. Selanjutnya kami harus berhati-hati karena ini baru cobaan pertama. Tahu sendirilah, untuk menyelesaikan tugas ini kami harus melewati 99 cobaan, seratus rintangan, dan lima puluh kesulitan. Fuuh…It’s hard day for us!.

Akhirnya, keempat pemuda ganteng, gagah berani, rajin menabung, pelita-pelita harapan bangsa Indonesia ini melanjutkan perjalanan. Kami berjalan dengan indah. Belum apa-apa Imul minta izin untuk pipis. Kami maklum, dikejar anjing memang bisa memberikan efek terkena HIV (Hasrat Ingin Vivis). Aku menunggu sambil berdiri di pinggir jalan, sedangkan Wapres duduk di seonggok kursi dari semen dan tegel (bener gak sih? Maafkan daku, daku kurang mengerti istilahnya). Dan teman-teman, saat inilah malapetaka hampir terjadi.

Tiba-tiba dari arah Merapi, turunlah dua anjing kekar yang … menuju arah kami. Aku resah. Kedua anjing itu berlari cepat sekali. Melihat kenyataan itu aku menduga mereka termasuk anjing berderajat tinggi di dunia peranjingan. Mirip-mirip gangster anjing gitulah. Aku tak tahu apakah kedua anjing itu memiliki kudis atau tidak. Tapi belum-belum, aku sudah bingung memikirkan biaya suntik rumah sakit dan obat rabies yang berhadiah mobil. Tepat satu meter sebelum anjing itu menyantapku, aku melompati parit selebar satu setengah meter dan menggasak pagar pittosporum. Aku heran, aku sudah membaca ayat kursi tapi anjing itu tak terpengaruh sama sekali (ya iyalah!). Pittosporum setinggi satu meter itu rusak, tapi aku tak peduli.

Aku lolos dari cobaan kedua. Setelah membalikkan badan aku menatap kedua anjing yang ternyata sedang kejar-kejaran itu dengan mata penuh dendam. Aku mengutuk mengapa di tempat wisata ini banyak anjing. Kulihat di seberang jalan Wapres duduk polos dengan mulut mangap terpaku menatap ke arah depan. Seakan tak percaya ada dua gangster anjing berlari riang persis di depannya. Sekedar informasi dan remainder Wapres adalah salah satu orang yang paling takut dengan anjing, sama sepertiku. Stadiumnya sudah stadium X. Kalian bisa membaca tulisan sebelumnya sewaktu dikejar anjing bagian I, dia bisa lari menyalipku yang terkenal jago sprinter. Kekuatannya berlipat-lipat mengagumkan. Lain kali akan kusarankan dia menyewa anjing herder saat penilaian olahraga lari Pak Singgih.

Wapres masih mangap. Termangu dalam terpaan cahaya sinar mentari.

“Aku harus segera menyadarkannya,” aku menggumam.

Aku segera mendekatinya. Aku khawatir dia shock lalu sakit lalu tak tertolong lagi meski dokter telah berusaha sekuat tenaga seperti di sinetron-sinetron televisi. Aku tak mau kehilangan dia seperti ini. Masih banyak rintangan, cobaan, dan kesulitan yang harus kami hadapi. Masih banyak anjing yang harus kami lari darinya. Masih banyak anjing yang menginginkan dagingnya. (Lho??!).

Singkat kata, aku berhasil menyelamatkan jiwa karibku. Kami melanjutkan vakansi. Tujuan selanjutnya adalah Gardu Pandang. Tak perlu waktu lama untuk sampai di Gardu Pandang dan menikmati pemandangan alam Merapi.

Dari Gardu Pandang tampak hamparan sesemakan dan hutan di kanan kiri sungai yang berkelok-kelok seperti ular. Nun jauh mata memandang, hijau menguasai daratan, mengingatkan akan Taman Nasional Serra dos Orgass di Brazil. Sungainya, oh, tampak curam sekali tebing dari tempat dimana aku berdiri. Aku bahkan tak bisa melihat seramnya dasar sungai yang tak lagi dialiri air.

Aku menyandarkan tubuh berlama-lama di sebuah tiang. Membiarkan angin sejuk membelai tubuhku, memandang gumpalan yang rasanya aku bisa menggapainya, dan menatap barisan semut di batang tanaman Azalea. Aku mengamati semut itu lekat-lekat dan mulai berpikir mengapa semut tak terluka bila jatuh dalam ketinggian apapun.

Yang kutahu, semut jatuh mengadopsi strategi tentang sayap elang, mengendalikan penurunan mereka dengan memiringkan tongkai, lengan serta tubuh. Hewan kecil itu melayang dengan kaki ke belakang dan perut mengarah ke batang pohon. Ada lagi kelebihan semut yang sangat menakjubkan. Semut Odontomachas memiliki rahang bawah yang mampu menutup dengan cepat dan rapat dalam gerakan refleks tercepat di dunia binatang. Kuberitahu berapa akselerasinya : nol sampai 75 km/jam dalam 0,15 milidetik. Bisa membayangkan? Gambaran mudahnya, gerak reflek itu 2300 kali lebih cepat daripada kedipan mata. Hm, nature is full of surprises, mate!.

Panorama dalam lanskap pagi ini seperti musik bergaya legato yang smooth, manis, tenang, dan menentramkan. Lantunan gemerisik daun yang berduet dengan angin membunyikan ekstase nostalgia, meleburkan kode-kode tak tuntas yang terindah dari alam. Kupejamkan mataku. Sesaat aku terbuai.

Setelah cukup puas kami berempat pulang. Aku memetik sekuntum Brugmansia suaveolens yang terus kumainkan sepanjang jalan pulang.

Kami tiba di wisma dengan tiada kurang suatu apapun. Aku segera menuju kamar. Aku sudah berharap-harap cemas apakah Deri selamat dari mimpi kelamnya. Ternyata dia malah sudah bangun dan mandi.

“Mandinya pagi sekali, Der?” tanyaku dengan imut.

“Barbie-nya minta mandi bareng ya?” tanyaku lagi.

Keningnya berkerut.

Aku heran. Aku khawatir dia menganggap serius kata-kataku. Lalu, sambil melebarkan anduknya kearahku, ia berkata, “Gambarnya bukan Barbie, tapi Winnie the Pooh…”

₪.

{Ehm.ehm. okay? Ready …Action!}

Malam ini adalah malam terakhir kami di Kaliurang, terdengar suara isak tangis. Siang tadi aku menjalani siang yang amat sangat super duper membosankan. Aku hampir pingsan dibuatnya (segitunya…).

Aku berharap malam ini berakhir menyenangkan. Sudah larut malam kami baru saja mempresentasikan program kepada dewan Pembina. Alhamdulillah, semuanya disetujui, hanya perlu beberapa perbaikan untuk memudahkan proses persuratan. Di depanku tergelar berbagai macam snack, roti, chiki, sapi dan coklat. Keadaannya persis seperti kantin sekolah. Tentu saja sulit menebak dari siapa saja makanan itu. Mari kita tebak bersama-sama. Dugaan pertama, penyumbang bahan makanan terbesar adalah Nana. Oiya, mulai disini kita bisa sebut Nana sebagai Lala. Itu lho, yang ada di Sinetron Teletubbies. Lala dan Nana tak ada bedanya. Sama lucu dan ******nya. Mengenai masalah ****** aku sudah berusaha menasehatinya berkali-kali agar dia sedikit berhemat. Bahkan demi Lala aku membuat lagu yang sangat keren :

Nana di Nana anak kambing Nana

Anak kambing Nana ada di Nana Nana

Nana di Nana oiy, oiy

Nana di Nana oiy, oiy

Nana di Nana, ada di Nana Nana

Sayangnya si cewek cantik Lala ini (dah, muntah aja, aku dah dari tadi) tidak mau menurut nasehatku. Jadilah dia ******. Dan kalau dilihat dari ******nya, ‘Lala’ pantas diduga kuat sebagai tersangka pembawa barang bukti.

Dugaan kedua, penyumbang bahan makanan terbesar adalah Rizqi, sebabnya? Dari tadi si Rizqi menyantap tanpa henti dengan suksesnya. Aku berhusnudzon bahwa Rizqi tidak henti ngemil karena berbagai rupa makanan itu dia yang membawa. Jujur saja aku agak ragu dengan dugaan kedua ini karena kulihat Ria selalu melirik ke arah Rizqi dengan pandangan sinis. Apa mungkin malah Ria yang membawa semua makanan itu? Sampai cerita ini ditulis, misteri itu belum terpecahkan. Bagi kalian yang sudah punya dugaan yang meyakinkan, silahkan bertanya pada si terdakwa. Kalau sudah, harap penulis di missed call (kurang kerjaan amat sech!).

Eniwei, angin malam khas Kaliurang mulai menggigit tulangku. Tugas kami selesai sebelum kira-kira pukul 00.30 terdengar suara lolongan burung hantu dan auman serigala.

Esoknya kami presentasi. Dan kata-kata terakhir yang kuingat saat hari presentasi adalah :

“Sukses ya!” kata Pak Singgih sambil jabat tanganku.

Written by zidan1

November 17, 2008 at 2:36 am

Posted in Uncategorized

Leave a Reply