Gladhi Vidya Teladan

Posted: May 19, 2008 in Uncategorized

The 2nd Carnival

Gladhi Vidya Teladan

GVT membuatku benar-benar memeras otak untuk mengerahkan seluruh kemampuan dan daya tahan tubuhku. Aku berusaha mengatur waktu pengerjaan tugas sebaik-baiknya. Hasilnya, aku hanya di-black list sekali. Itupun bukan karena tugas, melainkan karena kesengajaankuyang tidak memakai kaos olahraga selama seminggu penuh GVT. Aku malah memakai kaos hight class bertuliskan Nevada dengan keren. Kukia kakak panitia akan takjub dengan gayaku yang tampil beda. Ketika dipanggil dalam daftar black-list pun aku mengira kakak kelas takjub lalu akan memintaku untuk tidak menyebarluaskan gaya kerenku ini ke semua teman agar tak ada yang menyaingi penampilan kakak panitia selain aku. Ternyta dugaanku salah. Akibat gaya kerenku ini, kakak kelas yang merasa tersaingi dalam penampilan terhadap juniornya, menyuruhku push-up satu seri dan menambah tugas untuk menuliskan jadwal monotonku selama GVT.

Inilah susahnya jadi orang keren. Sudahlah, memang begitu tabiat manusia.

Selama GVT aku mengevaluasi seluruh tugas-tugasku. Menyenangkan juga. Esok, hal ini tentu akan menjadi memori yang indah.

Nama Dada

Awalnya, tugas ini dibacakan oleh seorang kakak kelas berpenampilan sangar, tegap, dan pemalu. Kau bisa bayangkan kumulasi penampilan seperti itu? Rangkaian kata-kata yang jika direalisasikan ternyata menjadi nama dada yang penuh makna itu membuatku pusing delapan keliling. Aku sudah menunjukkan tanda-tanda pesimis: melongo, tengok kanan, tengok kiri, menunduk pasrah. Aku berusaha menulis cepat tapi tetap saja tak bisa menandingi kecepatan bacaan kakak kelas yang menurut quick count kelas secara aklamasi mencapai 200 km/ jam. Untunglah dengan sebuah kekeluargaan kelas yang solid semuanya dapat diatasi. Pemerintah Al-Kindus segera membentuk tim super pemvisualisasian nama dada Gladhi Vidya Teladan yang disingkat TSPNDGVT. TSPNDGVT ini berisikan orang-orang terpilih yang dipilih secara sukarela. Agak tak jelas memang. Tapi TSPNDGVT ini mampu menyelesaikan tugas dengan baik. Ketika nama dada dicek oleh pansus GVT, masih ada sedikit kekeliruan. Tapi lumayan, bentuk dasarnya sudah sama. Hanya tinggal masalah perincian aturan. Total, setelah ditambah nama dada evolution, aku berhasil membuat lima nama dada. Nama dada nomor empat membuatku bangga, karena aku mendapat stiker P yang berarti… perfect.

Lapor Pos dan Denah part I

Tugasnya lebih sederhana dari nama dada. Tetapi cukup rumit juga. Pertama, kami harus membuat kertas manila berbentuk hexagonal yang nantinya akan berisi tanda tangan bukti lapor pos. Tulisannya harus rapi, center, menggunakan huruf lidi yang telah ditentukan panitia. Kedua, ada bagian kreativitas yang mana kami harus menyulapnya menjadi apresiasi yang menarik minat kakak kelas sebagai tim penilai. Ketiga, seusai pelaksanaan GVT, kami harus berlari untuk sekedar mencari tanda tangan pelengkap tugas lapor pos di berbagai penjuru mata angin sekitar sekolah Teladan sesuai pleton masing-masing. Kami harus cepat karena batas waktu lapor pos dari selesai pelaksanaan GVT hanya lima belas menit. Selama enam kali lapor pos aku selalu menjadi lima besar peraih tanda tangan tercepat dan total aku membuat empat kertas lappos. Kebanyakan aku disuruh mengulang karena hiasan yang kurang menarik. Di kertas lapor pos pertama, hiasan yang aku persembahkan hanyalah empat gambar planaria yang sedang breakdance. Sebagai balasan, tertulislah sebuah pertanyaan di sebelah gambar planaria-ku: masa hanya seperti ini? Kertas lapor pos kedua pun aku mendapat komentar yang sama. Baru di kertas lapor pos ketiga aku memnunjukkan karya masterpiece-ku yang sesungguhnya. Namun karena ada (hanya) dua huruf lidi yang salah, aku terpaksa mengulang. Aku bertekad, pada kertas lapor pos keempat aku akan menunjukkan keindahan seniku yang luar biasa dan tak terduga. Tim penilai akan mabuk kepayang dibuatnya. Seperti inilah realisasi ide brillianku : Di sebelah pinggir kertas heksagonal lapor pos-ku aku menuliskan kata ‘Yogyakarta’ memakai aksara Jawa yang sangat fenomenal. Terlihat lapposku sangat bernuansa klasik. Kemudian aku menebalinya dengan bolpoin warna merah dan memberi goresan warna hijau d isekeliling aksara mengikuti bentuk aksara jawa yang eksotis. Aku membuatnya pada keenam sisi hexagonal. Di antara keenam aksara jawa bertuliskan Yogyakarta itu, aku melukis kaligrafi bertuliskan ‘Allah’. Tanpa harakat. Hiasan yang sangat serasi. Dalam menulis huruf lidi pun aku sangat teliti dan hati-hati. Setelah kucek ulang, tak ada huruf yang salah. Aku yakin akan mendapatkan stiker P untuk masterpiece-ku kali ini. Setelah dikembalikan lagi, aku terhenyak, di tengah-tengah kertas tertulis: ‘sayang, hiasan tengah gak menarik! So, yang ini gak dpt REWARD!’ Tak apa, kuakui aku hanya memfokuskan pada pinggir ke-enam sisi hexagonalnya saja. Bagian tengah hanya kutulis nick name, nomer pleton, dan nomer urut kelas dengan huruf lidi serapi mungkin. Aku memutuskan berusaha meraih reward dalam tugas yang lain.

Lapor Pos dan Denah part II

Tugas denah adalah tugas yang paling mudah tetapi tetap bermakna. Dengan denah kita tak perlu malu. Ingatkan, ada pepatah yang mengatakan banyak bertanya memalukan? Dengan denah kita akan menjelma menjadi orang yang kebih percaya diri. Hidup denah!

Ada dua tugas denah. Pada hari pertama sampai kelima, aku mengerjakan denah lapor pos dan pada hari keenam aku menggambar denah sekolah. Bisa dikatakan tgas denah merupakan satu rangkaian dengan lapor pos.

First day : Aku menuju arah matahari terbit. Lepas dari gerbang aku langsung mencari langkah seribu. Aku menyalip beberapa orang, melewati Pasar Serangan, menyeberangi Sungai Code. Di sebuah perempatan aku berbelok cepat ke arah utara. Ternyata tempat lapor pos pertama adalah Bakpia Patuk. Pulangnya aku berjalan santai sambil mencatat berbagai bangunan yang telah kulewati sebagi bahan untuk membuat denah lappos. Aku sempat melihat Wiku. Aku khawatir dengan sikap larinya. Kedua kakinya bersilang saling cepat. Aku takut bila kedua kakinya saling bertubrukan dan…klek…klek…klek…hiii…

Second day : Jalurku kali ini adalah menuju ke selatan. Ke jalan Kapten Tendean. Sederas kijang aku berlari melewati banyak gang dengan nama tokok pewayangan Jawa. Kulewati muara jalan Abimanyu sampai Gatotkaca. Kulewati muara jalan Werkudara sampai jalan Nakula. Aku berlari dengan semangat ‘65 mengingat keberanian Kapten Tendean mempertaruhkan nyawa demi melawan pemberontak PKI. Sukses! Aku menjadi yang kedua. Lokasi lappos hari kedua adalah Primagama. Seperti hari pertama, aku menyusuri jalan pulang sambil mencatat nama jalan dan bangunan-bangunan penting. Oiya, dalam membuat denah dua hari pertama ini aku mendapat nilai A. Good…good…good… I’m glad,guys!

Third day : Gerbang dibuka dan aku agak sulit untuk segera keluar karena terjepit ditengah-tengah khalayak yang juga bernafsu untuk meraih secuil tanda tangan. Di antara himpitan menyeruaklah bau-bauan aneh, bau kaos yang sudah tiga hari tidak dicuci. Tentu bajuku perkecualian karena aku memakai kaos Nevada yang menyebabkan aku di blacklist. Setelah keluar dari lingkungan berbau tak jelas, aku langsung tancap gas. Kearah matahari terbenam. Aku sudah kehilangan beberapa menit waktu. Tak sampai lama aku langsung menduduki peringkat tiga besar. Di depanku ada dua orang yang selalu menengok ke belakang. Aku mencoba berlari lebih kencang namun tak berhasil mengejar mereka. Lokasi lapor pos kali ini diseberang jalan warung Soto Kadipiro II. Ada sebuah insiden menarik. Seorang bapak marah-marah dengan kakak pelatih pemberi tanda tangan. Masalahnya, anak bapak itu tak mendapatkan tanda tangan karena waktu sudah habis. Bapak itu tak terima karena anaknya yang menahan sakit telah berusaha sekuat tenaga tapi ternyata tak mendapat apa-apa. Akhir peristiwa, sang bapak pergi membawa anaknya setelah melampiaskan kemarahannya. Sang kakak pun tertegun merasa bersalah yang teramat sangat. Siapa pun nama kakak itu, sabar ya kak…

Fourth day : Aku meluncur kearah utara dengan senang hati. Ditengah bau-bau tak sedap kaos teman-temanku, hatiku berbungan-bunga harum semerbak karena hari ini pletonku meraih anugerah the best pleton of the day. Setiap bertemu kakak panitia dengan posisi istirahat ditempat, ku tunjukkan senyum termanisku. Cukup melelahkan juga lapor pos kali in; lokasinya di depan bimbingan belajar Nurul Fikri. Disana kembali aku kegirangan karena mendapat jatah minuman kaleng pocari sweat. Glek…glek…glek…Ah…

Fifth day : Karena empat penjuru mata angintelah kulalui, dihari kelima ini aku kembali berlari kearah lapor pos yang pertama. Kearah Bakpia Patuk. Seperti hari kemarin aku berlari dengan hati harum semerbak berbunga-bunga karena pleton X-ku yang tercinta berhasil meraih the best pleton of the day award. Aku tak tahu mengapa bisa begitu. Padahal menurut Kakak Yuyun,kakak komandan pletonku yang galak, pletonku hari ini cukup hancur. Tak sebaik hari kemarin. Aku tak bisa membayangkan seberapa hancurnya kelompok lain. Karena aku merasa pendapat Kak Yuyun itu memiliki kebenaran mutlak yang sulit dibantah. Pada hari terakhir lapor pos ini aku berusaha meraih hasil denah yang terbaik. Untuk itu, ketika di Pasar Serangan aku melihat banyak tikus bermigrasi kearah sungai, kugambar migrasi itu didenah dengan nama ‘The disgusting rat street.’ Hmm…nama jalan yang cukup berkelas.

Sixth day : Hari ini tak ada tugas menggambar denah lapor pos karena kemarin lapor pos yang terakhir. Diganti tugas membuat denah sekolah diatas kertas manila 40×30 cm. Itu pun aku hampir lupa. Aku baru membuatnya di sekolah. Hasilnya pun tak terlalu memuaskan, hanya mendapat nilai B. Tapi hasil yang kurang memuaskan itu tak bisa menutupi perasaanku yang (sekali lagi) berbunga-bunga harum semerbak mewangi. Pleton X kembali meraih gelar the best pleton award. Hal ini membuatku yakin bahwa dihari terakhir nanti, saat upacara penutupan berlangsung, pleton X-ku akan meraih gelar paling prestisius berjudul ‘the best pleton of the week.’ Aku optimis sekali. Just wait…

Stopmap GVT

Tentu semua tahu apa fungsi stopmap ini. Di dalamnya berisi semua tugas yang akan atau telah dikumpulkan. Tapi jangan sekali-kali membayangkan mudahnya membuat stopmap GVT ini. Stopmap GVT berbeda dari stopmap yang berharga 300-an rupiah yang dijual di warung-warung. Kau takkan menemukan stopmap sebagus versi GVT di arung manapun, bahkan di warung togel sekalipun. Sulitnya membuat stopmap GVT ini sebenarnya terletak pada pemberian identitas nam, nomor pleton, dan nomer kelas yang terletak disampul depan. Kami, para peserta Gladhi, harus membuat identitas diatas kertas milimeter blok berukuran 12×16 cm dengan huruf balok center berketebalan tiga milimeter dan garis tepi berketebalan sama. Huruf balok harus diblok tinta hitam 0,1 dengan rapi. Rapi, ini yang sulit. Aku membuat identitas diri it sampai tiga kali. Setelah kegagalan yang pertama dan kedua, pansusku memberikan dorongan motivasi agar aku tak mudah menyerah. Nasihat yang paling tertanam adalah ketika kakak pansusku yang bertubuh imut itu mengatakan, “Allah menyukai hamba yang melakukan sesuatu dengan sempurna.” Semangatku terlecut seketika. Malamnya, demi kesempurnaan yang kurindukan, aku meminjam lup tetangga depan rumah untuk memastikan bahwa goresanku harus rapi. Aku mem-blok huruf dengan tidak tergesa-gesa. Hasilnya, setelah stopmap dikembalikan, secarik kertas terpampang dikertas milimeter blok: You get reward! Tidak jauh dari tulisan, sticker kecil P tertempel alangkah manisnya.

Biodata

Ada dua macam tugas biodata. Yang pertama, biodata satu kelas. Yang kedua, biodata satu pleton. Tentu saja tahu kalau fungsi biodata adalah agar kita saling mengenal satu sama lain. Hal ini sangat bermanfaat bagi kami semua. Mengenai biodata ini, aku membuat biodata yang sangat sederhana sekali (SSS). Biodata SSS-ku ini hanya membutuhkan beberapa lembar kertas HVS. Di kertas HVS itu kubuat kotak-kotak tak beraturan dan tak saling bersinggungan. Tiap kotak untuk satu orang. Untuk bisa mengerjakan tugas biodata ini, dibutuhkan kekompakan tinggi. Tentang biodata kelas tentu tak terlalu bermasalah. Tetapi untuk melengkapi biodata, pleton kami mengadakan janjian disuatu tempat. Beruntung teman-teman pleton X-ku bisa diandalkan. Isinya biasa saja, ada nama, alamat singkat, nomor handphone, kesan pesan, dan tanda tangan. Yang paling menarik perhatianku adalah melihat kesan pesan yang diberikan kepadaku. Kesan yang ditulis tentunya merupakan replikasi awal diri kita. Artinya,bagaimana kepribadian atau penampilan perdana yang kita tunjukkan, maka kesan dari teman itu adalah bukti diatas kertasnya. Inilah beberapa kesan awal teman-temanku yang berasal dari lubuk hati mereka yang terdalam:

Garda Yaumil Akhir : BAEK!

Annisa Tiara Dewi : Nama panggilan Abhe, lucu ya!!!

Ernanto Arisandi : tambah lucu ya!!!

Atika Nur Fitriana : pesenku semangat ya…!

Fajar Tufiq : Abhe orangnya cakep

Aulia Rahmawati : Keturunan mana yach?

Anistuti : Kamu cekatan

Wiku Pulangasih : Rajin belajar dan ibadah

Siti Nurfatimah : Lucu sich, tapi lebih akrab ma temen- temen yach

Hendra Setiawan : SEMANGAT

Reza Ramadhana : Friendly

Anjar Danundriya : TOP!!!

Adi Nugraha S : keren

Itulah kesan jujur kawan-kawan baruku. Aku berharap dikau tidak iri ataupun dengki terhadapku. Hadapilah kenyataan, kawan! Oya, aku juga mengategorikan kesan-kesan yang tak jelas mengenai makna dibalik kesan-kesan itu. Di bawah ini adalah kesan-kesan tak jelas itu (demi nama baik, identitas sang penulis tidak disertakan, hanya memakai inisial):

KD : Jangan gitu deh

NFA : Sori aku bingung he..he..

AKM : Jangan begitu, lebih baik nganu aja!

RR : Ya gitu dech!

ADW : Rasah anu yo!

AKM (lagi) : sipp ngantuk

Aku sedikit bisa memahami mereka. Mungkin sejak awal mereka melihat ada sosok lain dalam diriku. Sosok yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Sosok yang tidak cukup pantas dituliskan diatas lembar biodata SSS. Atau mungkin mereka malu untuk mengungkapkan secara terus terang? Oh, kawan. Yang terpenting, terima kasih untuk comments-nya…Yeah!

Tantangan Sie KIR

“SELAMAT DATANG DI TELADAN! KAMI SAMBUT ANDA DENGAN CINTA! DAN INILAH SALAH SATU BENTUK CINTA KAMI KEPADA ANDA!” Seperti itulah bunyi sambutan sie KIR kepada kaum akademis baru Teladan melalui lembaran kertas tugas yang dibagikan. Sie KIR yang kutahu adalah sie yang selalu menggembor-gemborkan pola pikir ilmiah. Sedikit-sedikit pola pikir ilmiah, sedikit-sedikit pola pikir ilmiah. Dalam lembaran kertas tugas, kami ditekankan untuk tidak hanya berpikir, tetapi juga dituntut untuk mampu bersikap ilmiah. Untuk itulah kertas tugas itu dibagikan. Mereka menyebut tugas dengan TANTANGAN. Melalui kertas tantangan itu,kami ditantang untuk membuat karya ilmiah dengan beberapa bentuk, yakni kliping, esai, makalah, presentasi, dan game.

Menurut kakak-kakak sie KIR, melalui macam-macam bentuk tantangan itulah kami bisa membuktikan kalau kami memiliki pola pikir ilmiah. Sebagai seorang pemberani berhati suci kuterima tantangan ilmiah itu. Aku memilih membuat esai mengenai hemat energi nasional. Aku mengambil ide dari sebuah koran lokal langgananku. Setelah jadi, aku terkejut sendiri. Ternyata selama ini aku memiliki sebuah kemampuan terpendam yang tak kuketahui namanya. Baru di Teladan ini aku tahu bahwa kemampuan itu bernama pola pikir ilmiah.

Tantangan Sie Basing

Sie Basing memberikan kami dua tugas: esai dan cerita rakyat. Agak susah karena aku tak terlalu pandai berbahasa inggris. Namu tak begitu saja aku patah arang. Dalam waktu yang cukup lama aku berhasil membuat essay yang berjudul ‘Capital Punishment Against Corruptors.’ Aku mencurahkan seluruh kemampuanku untuk membuat essay ini. Telah berkali-kali aku membolak-balik buku ‘English Grammar” sampai lusuh untuk menyempurnakan tata bahasanya. Menginjak paragraf kedua emosiku menjadi semakin menjadi-jadi ketika menulis:

Increase in price,grief, and scarce fuels cause many demonstration. Where many people are hungry, the high officials went abroad merely to spend for waste money. Their stomach become big! Actually, who suffer hungriness?!

Meski hampir dua jam aku membuatnya, tetapi essay-ku itu hanya sebanyak setengah halaman kertas HVS A4, dengan kurang lebih 170 kata aku memang membuatnya super padat berisi. Mungkin inilah essay paling sedikit sedunia. Aku sempat ingin memanggil The Guinness Book of Record untuk memasukkan dalam list rekor mereka. Tapi, kawan aku tak habis pikir ketika mendapat nilai excellent untuk essay ini. Tak habis pikir lagi ketika di bawah kertas essay-ku tertulis: You have a good english! Show your talent in English’s Session!^^

Untuk tugas folktales, aku sempat bingung. Aku tak tahu harus mengambil cerita apa. Aku sempat ingin mengarang cerita tentang legenda Nogotirto, legenda tempat tinggalku. Yaitu tentang sebuah cerita bahwa dulunya Nogotirto adalah sebuah danau yang sangat luas. Suatu ketika, ada seorang petani menemukan seekor ulat kecil di pinggir danau. Karena merasa kasihan, petani itu berniat ingin mengasuh si ulat. Agar lebih akrab, petani itu memanggil si ulat dengan nama Nogo. Semakin hari semakin akrablah sang petani dengan si Nogo. Suatu hari petani mengajak si Nogo untuk memancing bersama teman-temannya. Petani menaruh si Nogo di sampingnya. Tanpa diketahui sang petani, temannya dengan licik mengambil si Nogo dan memasangnya untuk umpan.

“Ulat itu sangat gemuk, pasti aku akan mendapat ikan hiu yang besar,” begitu kata temannya dengan bangga. Teman itu memang tidak mengetahui bahwa si ulat adalah teman akrab sang petani; ia mengira bahwa ulat itu termasuk umpan.

Tak perlu menunggu lama, teman itu benar-benar memperoleh hasil yang besar. Semua pemancing yang ada di danau itu terkejut karena tiba-tiba seekor naga raksasa berwarna biru muncul. Mereka tidak mengetahui bahwa naga itu merupakan jelmaan ulat yang terbunuh karena dijadikan umpan teman sang petani. Sang naga yang muntab langsung memakan semua orang yang ada disekitar danau. Termasuk sang petani mantan teman akrabnya. Dan dengan semburan apinya, naga itu menghiasi angkasa dengan api.

Sang naga terus mengeluarkan semburan selama seribu hari berturut-turut. Sampai semburan yang dikeluarkannya berupa campuran karbondioksida dan dinitro oksida. Sang naga yang belum pernah mengenyam pendidikan tak mengetahui bahwa semburan itu dapat mengakibatkan global warming.

Tak sampai sepuluh tahun dunia dilanda global warming yang teramat dahsyat. Atmosfer semakin menipis. Meteor-meteor dengan mudahnya menghantam bumi. Dan… makhluk hidup pun… punah.

Eh… belum ding. Ternyata ada beberapa orang yang selamat. Mereka berlindung di dalam bunker super hebat yang bahkan mampu membuat mereka awet muda meski telah berusia ratusan tahun. Setelah kondisi bumi kembali normal, mereka semua keluar dari bunker. Mereka lalu beranak pinak dengan pesat dan membangun kembali sebuah perumahan bernuansa natural. Dan perumahan itu mereka namai Nogotirto, yang berarti naga air. Nama itu akan selalu membuat mereka mengenang masa lalu.

Begitulah rencana ceritaku. Tapi aku merasa tak punya cukup waktu untuk men-translate-nya. Aku pun curhat dengan teman sebangkuku, Wiku. Dan jawaban yang dia berikan sungguh efektif dan memuaskan: “Aku punya dua, tak kasih satu ke kamu aja.” Kemudian terjadilah penyerahan lembar cerita rakyat. Kami berjabat tangan erat usai terjadinya transaksi. Ternyata Vietnamese Folktale berjudul The King’s Cat and The People’s Cat. Dengan senyum yang merekah kucoba memahami cerita yang diberikan. Tak usahlah kuceritakan kepadamu karena aku sendiri tak paham ceritanya. Yang kutahu, Vietnamese Folktale itu menyelamatkanku dari black list ke-2 GVT sepanjang hidupku.

Enam hari sudah kami, para akademika baru sekolah Teladan, menjalani Gladi Vidya Teladan 2005. Sesi yang paling berat menurut kami adalah sesi baris-berbaris atau sering disebut sesi danton (komandan pleton). Total, setiap hari, dua setengah jam kami menantang panasnya matahari. ”HADAP KANAN, GRAK! HADAP KIRI, GRAK!” suara kakak-kakak danton beradu dalam teriknya sengatan cahaya siang.

Peluh kami bercucuran. Semakin lama konsentrasi untuk merealisasikan setiap komando semakin melemah. Kalau satu saja dari kami melakukan kesalahan, maka tanpa ragu akan ada komando tegas, nyaring, nan bersahaja. ”HADAP SERONG KIRI, GRAK! TURUN SATU SERI!” Tanpa perlawanaan kami melakukan sepuluh kali push up. Tentu hal ini membuat kami makin lemah berkonsentrasi, seiring makin menurunnya stamina.

Namun diantara komando-komando baris-berbaris itu ada momen yang selalu ditunggu-tunggu. Yaitu saat kakak danton memberi aba-aba berbanjar, istirahat di tempat. Kemudian dari kejauhan muncul kakak-kakak lain yang berlari rapi menuju ke arah pleton kami. Setelah merapikan diri, dalam susunan berbanjar, kakak-kakak itu satu per satu memanggil nama kami. Kami mengikuti kakak-kakak yang memanggil itu dengan segera.

Di suatu tempat, kakak tersebut menyuruh kami untuk duduk. Menanyakan kabar kami hari itu. Mencoba meyakinkan kami bahwa segala hal di GVT merupakan wujud kasih sayang kakak kelas untuk kami. Memberi motivasi kepada kami untuk selalu bersemangat karena kunci dari kehidupan adalah semangat yang tiada henti tanpa kenal lelah.

Di dekatnya kami merasa seperti berada di oase tengah gurun padang pasir. Bersamanyalah kami melepas penat, mengurai kelelahan, dan menuai kebijaksanaan. Di tangannyalah segala pikiran negatif tentang GVT menguap tak berbekas. Kata-katanya menyejukkan. Seperti semilir angin yang datang bersama burung-burung prenjak.

Teman yang bersamaku dalam sesi itu adalah Anggit. Kami bukan teman satu pleton. Orangnya memang terkesan agak linglung. Mungkin karena efek kelelahan. Pernah dia tertinggal dan bingung mencari tempat pertemuan kami. Akibatnya, dia terlambat beberapa menit mengikuti sesi. Tapi tak apa, karena setelahnya kami dipersilahkan minum satu dua teguk air mineral dan sebungkus wafer Tango rasa vanilla.

Sesi yang menyenangkan tersebut hanya berlangsung selama tiga puluh menit. Menutup sesi, kakak baik hati itu memompa kami dengan kata-kata menggetarkan ala motivator kawakan. ”Hidup selalu dianggap sulit oleh orang-orang negatif tetapi dianggap menantang bagi orang-orang positif. Selalu bergembiralah, Ananda. Ketika Ananda gembira, Ananda sesungguhnya telah menciptakan kesuksesan dalam hidup Ananda.”

Ucapan itu terpatri sebegitu dalam, terpancang kuat dalam jiwaku. Membuatku siap seribu persen melanjutkan sesi baris-berbaris. Seketika aku menjelma menjadi seseorang yang paling percaya pada diriku sendiri bahwa aku akan melalui hari ini dengan penuh kesuksesan. Sebelum berpisah, kami berjabat tangan penuh makna. Dan sekilas, setiap kali berpisah, aku menatap nama identitas di dada kanannya : PANS-16. Sesi pansus memberiku kekuatan kompleks paling inti dalam university of life : the power of motivation, the power of integrity, the power of consistent, dan yang pasti the power of positive attitude. Aku mengangankan diri untuk menjadi seperti kakak pansusku.

Hari ketujuh GVT. Hari Ahad. Hari Hari terakhir Gladi Vidya Teladan. Tak ada lagi sesi berpanas-panas ria seperti sebelumnya. Hanya saja akan ada lomba antar pleton. Sehari sebelumnya telah dipilih seorang komandan pleton. Pleton X akan dikomandani oleh Deri Aprilianto. Suaranya yang lantang, tegas, jelas, merupakan semua persyaratan utama yang dimilikinya untuk menjadi seorang komandan pleton. Kapasitasnya tidak diragukan lagi.

Lomba dimulai. Deengan semangat berkobar-kobar pleton X yang telah meraih tiga kali penghargaan ’the best pleton of the day’ dalam tiga hari terakhir maju tanpa gentar. Tujuan kami : berusaha setotal-totalnya dan meraih titel juara.

Pos satu, yang merupakan pos gerakan di tempat, berhasil kami lalui dengan mulus. Usai menjalani pos aku iseng bertanya kepada Deri.

”Gimana Der rasanya jadi komandan?”

”Ya, begini…” jawabnya masih dalam posisi tegap, ”….harus selalu siap. Saat lomba, ya, harus terus menjaga penampilan.”

”Untuk kita ini,…”,imbuhnya,”….apapun yang terjadi, saat kita berada dalam barisankita mesti menuruti apa yang dikatakan sang danton. Sipa ya siap. Meski celana mlotrok pun, kita harus tetep dalam posisi siap. Ketaatan. Itulah kunci kemenangan.”

Aku mengangguk. Batinku sedikit memberontak : Wah, kalau celanaku mlotrok dalam pleton sih, mendingan aku benerin dulu. Malu kaleeeeee…….

Pos dua, tiga, dan empat berlangsung lancar tanpa hambatan berarti. Danton berkualitas mumpuni dan pleton yang handal merupakan pasangan serasi menuju gelar kampiun lanjutan. Akhir lomba, Deri mendadak jatuh pingsan. Beberapa dari kami bergegas membawanya ke UKS untuk ditindaklanjuti. Yamin yang berniat memberi nafas buatan kami cegah demi terciptanya suasana yang lebih aman. Untunglah tidak terjadi sesuatu yang parah pada diri komandan kami.

Matahari mulai condong ke barat. Para peserta Gladi Vidya Teladan berkumpul di lapangan voli. Beberapa menit ke depan akan diumumkan gelar-gelar terbaik selama pelaksanaan GVT. Akhirnya, tibalah saatnya……

”GELAR PLETON TERBAIK DIRAIH OLEH………….PLETON X!”

”Yeah!!!” gemuruh teriakan bahagia membahana. Kami satu pleton saling berpelukan satu sama lain. Kebersamaan selama satu minggu menjalani kerasnya GVT mencapai puncaknya. Disaksikan enam buah cemara yang menjulang menantang langit kami berhasil membuktikan bahwa semangat terbaik yang kami tunjukkan adalah cara terbaik untuk menghadapi hidup. Tak sia-sia selam ini kami mencurahkan segenap jiwa raga untuk bertahan menjalani tantangan awal kami di dunia SMA. Ini adalah awal yang bagus.

Upacara penutupan selesai dan seluruh kakak-kakak panitia GVT menyalami adik-adik kelasnya yang baru. Tak ada dendam, tak ada kesal, tak ada raut kelelahan. Gerbang awal telah kami lalui. Sepotong mozaik ini akan mengantarkan kami menuju karnaval hidup yang sesungguhnya. Karena Gladi Vidya Teladan adalah miniatur kompetisi hidup. Miniatur kompetisi hidup yang penuh vitalitas. Nyata. Penuh sosial humaniora. Penuh takdir megalomania. Penuh isyarat kebangkitan. Penuh sinergi kecerdasan. Penuh jebakan fatamorgana.

Kami adalah anak-anak zamannya. Generasi baru yang siap merebut momentum keteladanan.Bagai bubuk mesiu yang akan meledak jika terkena sepercik api, begitulah potret jiwa kami yang hampir membuncah. Semangat seperti ini harus menemukan segera lingkungan positif yang akan menampungnya. Pencarian akan segera dimulai.

Comments
  1. Wiku says:

    alo ini blognya sapa ya? salam knal! Wiku

  2. muridnya pak eko says:

    wah kok kea nya gvt asik jugak yy?
    Q masih awal” sii
    jadi nya dah horor duluan mikir nya
    skarang dah kul apa masih skul di teladan?
    oia ni mbak apa mas yy?

  3. nikma bekti says:

    wah kok kea nya gvt asik jugak yy?
    Q masih awal” sii
    jadi nya dah horor duluan mikir nya
    skarang dah kul apa masih skul di teladan?
    oia ni mbak apa mas yy?

  4. Chendut says:

    Uueweleh . . . Ra pik .,marai ndaz botak .

  5. 2011 says:

    mas, mbak, kakak, gvt nya tu tugas2 dikerjain bareng sendiri2 sih?? kakak kelasku pada aku tanya jawabnya ‘tunggu aja’ huhh. terimakasih :)

  6. 2011 says:

    mas, mbak, kakak, gvt nya tu tugas2 dikerjain bareng atau sendiri2 sih?? kakak kelasku pada aku tanya jawabnya ‘tunggu aja’ huhh. terimakasih :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s