Foreword
FOREWORD:
The Carnival of Souls
Sejarah adalah karnaval jiwa-jiwa. Peristiwa-peristiwa adalah batang tubuh sejarah. Kenangan, tak tersimpan dalam peristiwa. Tapi pada jiwa-jiwa yang bermain dalam ruangan peristiwa itu. Pada ruh yang memaknai peristiwa-peristiwa itu.
Dalam belasan tahunku menghuni tanah kebanggaan zamrud khatulistiwa ini hanya beberapa potongan waktu yang melekat dalam kenangan. Semasa sekolah dasar, sedikit sekali yang kuingat. Saat aku menjuarai lomba matematika se-kecamatan, saat aku melihat orangtuaku berseri-seri melihat nilai raporku yang selalu juara pertama, saat aku tak mau melepaskan topi idamanku walaupun dipaksa guru sekalipun, saat aku merasa pandanganku menjadi kabur dan tak mau kompromi lagi, saat aku mengenal orang-orang yang ternyata kusadari kini mereka adalah anak-anak yang tangguh, saat aku berangkat sekolah dan ternyata lupa membawa tas, saat aku berlari selalu dengan hitungan tercepat diantara kawan-kawanku, saat aku selalu melihat temanku yang berwajah kuyu memasuki kelas karena terlambat padahal rumahnya hanya di belakang sekolah, saat aku selalu diboncengkan temanku yang kaya namun rendah hati menggunakan sepeda federalnya melewati sawah yang luas dan tandus tanpa pepohonan menuju rumah nenekku.
Semasa sekolah menengah pertama, lebih banyak lagi karnaval hidup yang kukenang. mungkin karena jarak yang dekat dengan waktuku sekarang ini. Saat aku menjadi juara 1 di semester pertama sekolah, saat aku betapa bangganya masuk The Big Five di kelas dua di bawah Fantastic Four yang selalu tak tergoyahkan, saat aku berkenalan dengan gadis cantik pindahan dari Jambi, saat aku sekelas bermain sepakbola kesetanan menendang bola tanpa arah waktu kelas bangsal, saat aku dan teman sebangkuku menghitung jumlah kata ‘anak-anak’ yang diucapkan seorang guru bidang pembukuan, saat tiada ulangan tanpa mengulang dalam pelajaran biologi kelas dua, saat gadis cantik asal Jambi meminta fotoku menjelang kepulangannya ke Jambi, saat seluruh kelasku mengerjai guru Bahasa Indonesia dan terkena amarahnya, saat aku pertama kali mengantar temanku yang sempoyongan karena mabuk ke rumahnya, saat aku selalu bermain sepakbola tiap waktu istirahat, saat
aku menjadi vokalis dalam tes ujian menyanyi, saat aku menduduki kelas terbaik pada jam ke-0, saat aku dan seluruh pria di kelasku melakukan rutinitas konyol yang kami sebut ‘sepagi’, saat mendengar curhat memilukan teman sebangku yang diacuhkan pujaan hatinya, saat aku mengalami problematika klise para remaja: cinta monyet.
Dan berbagai karnaval lainnya. Namun bagaimanapun juga, hanya sedikit ruang, sedikit nama, sedikit peristiwa yang menjadi kenangan dibanding seberapa lamanya aku mendiami tanah Jawa ini. Tidak banyak. Waktu. Ruang. Manusia. Yang kita kenang tentu bukan hanya waktunya. Bukan dengan makna-makna. Bukan panggung ruang dengan waktu, dengan sebuah nama.
Karnaval di bumi Teladan, kurasa akan terasa sangat hebat. Tindakan jiwa-jiwaku bersama teman-teman baruku serasa akan menyemburat menjadi salah satu peristiwa episode-episode penting di pelataran sejarah. Menciptakan spektrum-spektum warna yang cantik nan elegan. Perubahan ini sebenarnya terlambat kusadari. Di sinilah, di bumi Teladan inilah, akan kubuat karnaval-karnaval cantik dan megah bersama aktor-aktor lainnya. Aktor-aktor yang mungkin baru memenuhi kehausan dahaga kesadaran akan sebuah keberartian, sebuah keteladanan juga sama sepertiku.
Kutemui orang-orang hebat di sini. Semangatnya, kecerdasannya, kejeniusannya. Benar-benar baru bagiku. Kudengar berbagai cerita dari mereka tentang, kudengar berbagai cerita menakjubkan tentang masing-masing mereka, dan kudengar pula Teladan yang menjawab gelora juang mereka. Namun, orang-orang hebat itu tetaplah manusia biasa dan mereka,manusia biasa yang berbeda, karena mereka mencoba merebut takdir keteladanan.
Kini, akulah yang harus menggantikan mereka, untuk terus memamerkan karnaval-karnaval mengagumkan yang terus didambakan. Bersama sahabat terbaikku, akan kupentaskan karnaval jiwa-jiwa yang masih misterius dalam kitab-Nya. Karnaval jiwa-jiwa yang dilakonkan oleh aktor-aktor terpilih.
Lihatlah!
Lihatlah karnaval-karnaval yang bagaikan fajar, menyingsing di kaki langit, setelah tertatih melampaui malam. Saat sang jiwa menembus batas waktu dan ruang. Saat makna-makna memenuhi rongga sang jiwa, lalu meledak. Meledak menyemburat di ujung malam. Maka lahirlah pagi lalu terjadilah yang nanti turut disaksikan langit : karnaval jiwa-jiwa.
Wah nang sd smp sma kau pancen nduwe okeh pengalaman sing menyenangkan banyak pihak. Nama aslimu sapa? Arif Bahktiar udu?
mufti
June 4, 2008 at 3:39 am