Archive for May 2008
Zubair nomor 1
The 8th Carnival
Zubair nomor 1
“BERANDALLL!!!”
Aku berlari kencang menyusuri trotoar dekat pasar. Di sebelahku, berandal sebenarnya, biang keladi semua ini, Yamin, berlari tak kalah kencangnya. Wajahnya tegang, kukira sama seperti wajahku saat ini. Rambut berindilnya berderai berbinar-binar. Suara preman pasar membahana. Bersama dua orang teman nongkrongnya, preman itu bernafsu menangkap kami.
Hysteria
The 7th Carnival
Hysteria
Kehidupan ini fantastik, Kawan!
Aku sangat menyukai sepak bola. Hobiku juga sepak bola. Sejak kecil aku tergila-gila pada sepak bola. Olahraga paling universal ini sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kepribadianku. Sepak bola adalah kelebihanku di satu sisi dan kelemahanku di sisi yang lain.
Real Estate of Science
The 6th Carnival
Real Estate of Science
TAK DISANGKAL, sekolah kami adalah salah satu sekolah favorit seluruh Indonesia. Di tempat inilah pelita-pelita harapan bangsa bergejolak menuju cita, riuh tegap dalam setiap gerak langkah. Sekolah kami berdiri elegan dijaga enam buah cemara bernama buku Causarina junghuniara dan halaman depannya dihiasi taman indah dengan rumput manila yang tercukur rapi.Sekolah kami merupakan tempat bagi semua hal yang terbaik. Sekolah kami telah menjadi Centre of Cambridge, gelar pelambang mutu tinggi pendidikan yang diraih secara tidak sembarangan. Sekolah kami adalah real estate of science.
My Name
The 5th Carnival
My Name
Aku akan menceritakan sejarah namaku. Nama panggilan, bukan nama lengkap. Sebelumnya tak pernah ada yang tahu hal ini. Kecuali teman-teman sekelas SMP-ku dulu. Beruntunglah kau kuberi tahu Kawan.
Nama lengkapku Arief Bakhtiar Darmawan. Nama panggilanku jauh lebih pendek: AB. Hanya dua huruf dan dibaca terpisah, A dan B, kalau ditulis mungkin menjadi Abe.
Theater of Dream
The 4th Carnival
Theater of Dream
Takzim kucium tangan ayahku. Kumasuki sekolah dengan tegap, melangkah tegas seperti seorang letnan yang baru saja naik pangkat. Tersenyum aku kepada satpam. Senyum yang semanis-manisnya. Sebagai murid baru sekolah favorit ini masih terasa kebanggaanku berhasil masuk dengan nilai yang cukup tinggi. Apalagi memakai jas biru tua almamater, tampak sangat berkelas.
Indonesia Merdeka
The 3rd Carnival
Indonesia Merdeka
Seperti angin membadai. Kau tak melihatnya. Kau merasakannya. Merasakan
kerjanya saat ia memindahkan gunung pasir di tengah gurun. Atau merangsang
amuk gelombang di laut lepas.
Begitulah cinta. Ia ditakdirkan jadi kata tanpa benda. Tak terlihat. Hanya terasa.
Tapi dahsyat.
Mekar. Putih. Indah. Menyejukkan. Aku menyaksikannya sendiri. Sudah sejak lama aku menantikan keindahan ini. Sejak aku menemukannya. Awalnya memang biasa. Tak ada yang spesial. Namun hatilah yang jeli menemukan titik pesonanya.
Gladhi Vidya Teladan
The 2nd Carnival
Gladhi Vidya Teladan
GVT membuatku benar-benar memeras otak untuk mengerahkan seluruh kemampuan dan daya tahan tubuhku. Aku berusaha mengatur waktu pengerjaan tugas sebaik-baiknya. Hasilnya, aku hanya di-black list sekali. Itupun bukan karena tugas, melainkan karena kesengajaankuyang tidak memakai kaos olahraga selama seminggu penuh GVT. Aku malah memakai kaos hight class bertuliskan Nevada dengan keren. Kukia kakak panitia akan takjub dengan gayaku yang tampil beda. Ketika dipanggil dalam daftar black-list pun aku mengira kakak kelas takjub lalu akan memintaku untuk tidak menyebarluaskan gaya kerenku ini ke semua teman agar tak ada yang menyaingi penampilan kakak panitia selain aku. Ternyta dugaanku salah. Akibat gaya kerenku ini, kakak kelas yang merasa tersaingi dalam penampilan terhadap juniornya, menyuruhku push-up satu seri dan menambah tugas untuk menuliskan jadwal monotonku selama GVT.
Kamuflase
The 1st Carnival
Kamuflase
RUPANYA euforia menjadi siswa baru Teladan yang tengah kualami, juga dialami Imul. Teman duduk pertama kali saat masuk SMP-ku itu cengar-cengir saja hari ini. Dia begitu bersemangat. Tertawa-tawa ringan. Bercanda dengan teman yang baru dikenalnya hari ini. Temannya tampaknya juga bersemangat seperti Imul. Dan semakin lama semakin terlihat, euforia itu tampak pada seluruh wajah siswa baru. Semuanya ceria, cerah. Meriah.
Foreword
FOREWORD:
The Carnival of Souls
Sejarah adalah karnaval jiwa-jiwa. Peristiwa-peristiwa adalah batang tubuh sejarah. Kenangan, tak tersimpan dalam peristiwa. Tapi pada jiwa-jiwa yang bermain dalam ruangan peristiwa itu. Pada ruh yang memaknai peristiwa-peristiwa itu.
Dalam belasan tahunku menghuni tanah kebanggaan zamrud khatulistiwa ini hanya beberapa potongan waktu yang melekat dalam kenangan. Semasa sekolah dasar, sedikit sekali yang kuingat. Saat aku menjuarai lomba matematika se-kecamatan, saat aku melihat orangtuaku berseri-seri melihat nilai raporku yang selalu juara pertama, saat aku tak mau melepaskan topi idamanku walaupun dipaksa guru sekalipun, saat aku merasa pandanganku menjadi kabur dan tak mau kompromi lagi, saat aku mengenal orang-orang yang ternyata kusadari kini mereka adalah anak-anak yang tangguh, saat aku berangkat sekolah dan ternyata lupa membawa tas, saat aku berlari selalu dengan hitungan tercepat diantara kawan-kawanku, saat aku selalu melihat temanku yang berwajah kuyu memasuki kelas karena terlambat padahal rumahnya hanya di belakang sekolah, saat aku selalu diboncengkan temanku yang kaya namun rendah hati menggunakan sepeda federalnya melewati sawah yang luas dan tandus tanpa pepohonan menuju rumah nenekku.
Semasa sekolah menengah pertama, lebih banyak lagi karnaval hidup yang kukenang. mungkin karena jarak yang dekat dengan waktuku sekarang ini. Saat aku menjadi juara 1 di semester pertama sekolah, saat aku betapa bangganya masuk The Big Five di kelas dua di bawah Fantastic Four yang selalu tak tergoyahkan, saat aku berkenalan dengan gadis cantik pindahan dari Jambi, saat aku sekelas bermain sepakbola kesetanan menendang bola tanpa arah waktu kelas bangsal, saat aku dan teman sebangkuku menghitung jumlah kata ‘anak-anak’ yang diucapkan seorang guru bidang pembukuan, saat tiada ulangan tanpa mengulang dalam pelajaran biologi kelas dua, saat gadis cantik asal Jambi meminta fotoku menjelang kepulangannya ke Jambi, saat seluruh kelasku mengerjai guru Bahasa Indonesia dan terkena amarahnya, saat aku pertama kali mengantar temanku yang sempoyongan karena mabuk ke rumahnya, saat aku selalu bermain sepakbola tiap waktu istirahat, saat
aku menjadi vokalis dalam tes ujian menyanyi, saat aku menduduki kelas terbaik pada jam ke-0, saat aku dan seluruh pria di kelasku melakukan rutinitas konyol yang kami sebut ‘sepagi’, saat mendengar curhat memilukan teman sebangku yang diacuhkan pujaan hatinya, saat aku mengalami problematika klise para remaja: cinta monyet.
Dan berbagai karnaval lainnya. Namun bagaimanapun juga, hanya sedikit ruang, sedikit nama, sedikit peristiwa yang menjadi kenangan dibanding seberapa lamanya aku mendiami tanah Jawa ini. Tidak banyak. Waktu. Ruang. Manusia. Yang kita kenang tentu bukan hanya waktunya. Bukan dengan makna-makna. Bukan panggung ruang dengan waktu, dengan sebuah nama.
Karnaval di bumi Teladan, kurasa akan terasa sangat hebat. Tindakan jiwa-jiwaku bersama teman-teman baruku serasa akan menyemburat menjadi salah satu peristiwa episode-episode penting di pelataran sejarah. Menciptakan spektrum-spektum warna yang cantik nan elegan. Perubahan ini sebenarnya terlambat kusadari. Di sinilah, di bumi Teladan inilah, akan kubuat karnaval-karnaval cantik dan megah bersama aktor-aktor lainnya. Aktor-aktor yang mungkin baru memenuhi kehausan dahaga kesadaran akan sebuah keberartian, sebuah keteladanan juga sama sepertiku.
Kutemui orang-orang hebat di sini. Semangatnya, kecerdasannya, kejeniusannya. Benar-benar baru bagiku. Kudengar berbagai cerita dari mereka tentang, kudengar berbagai cerita menakjubkan tentang masing-masing mereka, dan kudengar pula Teladan yang menjawab gelora juang mereka. Namun, orang-orang hebat itu tetaplah manusia biasa dan mereka,manusia biasa yang berbeda, karena mereka mencoba merebut takdir keteladanan.
Kini, akulah yang harus menggantikan mereka, untuk terus memamerkan karnaval-karnaval mengagumkan yang terus didambakan. Bersama sahabat terbaikku, akan kupentaskan karnaval jiwa-jiwa yang masih misterius dalam kitab-Nya. Karnaval jiwa-jiwa yang dilakonkan oleh aktor-aktor terpilih.
Lihatlah!
Lihatlah karnaval-karnaval yang bagaikan fajar, menyingsing di kaki langit, setelah tertatih melampaui malam. Saat sang jiwa menembus batas waktu dan ruang. Saat makna-makna memenuhi rongga sang jiwa, lalu meledak. Meledak menyemburat di ujung malam. Maka lahirlah pagi lalu terjadilah yang nanti turut disaksikan langit : karnaval jiwa-jiwa.