Ingatan Satu Tahun Lalu
The 52nd Carnival
Ingatan Satu Tahun Lalu
Aku sedang berbenah di dalam kamar. Dan aku mendapati berkah baru: kedua orangtuaku yang baik membelikan sebuah lemari pakaian baru. Kamarku semakin sempit, tapi aku suka dengan keberadaan lemari berwarna cream itu.
Yang pertama kubenahi adalah kertas-kertas lama yang masih terkumpul di salah satu rak hijau. Aku memilahnya. Berkas-berkas yang kiranya sudah tak perlu kuputuskan untuk ”dikandangkan” dalam stopmap yang khusus untuk menempatkan kertas-kertas bekas. Beberapa masih penting, memang. Tapi ada satu kertas yang akhirnya menarik perhatianku untuk lamat-lamat memperhatikannya. Kertas itu kecil saja, berukuran kira-kira 10 cm X 13 cm. Hal apa yang kiranya menarik perhatianku? Inilah semua rangkaian kata per kata yang terdapat dalam kertas itu: Read the rest of this entry »
Elvera
The 51st Carnival
Elvera, Ada Cinta di Atas Cinta
MATA rantai siklus air hujan amat menakjubkan. Siklus hujan dimulai dengan adanya kondensasi air laut akibat panas sinar matahari. Uap air laut akan naik ke langit hingga ke lapisan terbawah dari atmosfer yang para ahli menyebutnya troposfer. Lapisan troposfer terletak antara 13-15 km dari permukaan laut tergantung dari iklim. Allah telah memberikan kesempatan pada uap air yang naik ke langit tersebut dengan proses pendinginan secara bertahap. Lapisan udara semakin dingin hingga mencapai minus 80 derajat. Ugghh, bisa kau bayangkan? Betapa dinginnya itu, Kawan. Uap tak acuh, terus tertiup angin, mengumpul menjadi awan dan mengalami pendinginan. Awan yang berarak-arak akan terbawa ke daratan hingga terhenti di atas pulau atau daratan yang memiliki gaya gravitasi relatif lebih besar dibanding di atas lautan. Awan yang semakin dingin dan mengembun akan semakin berat dan tak kuasa jatuh menjadi butir-butir air yang menyerbu bumi tanpa ampun. Tanpa lapisan troposfer yang memiliki kekhasan sifat fisika, uap akan melayang terbang dan musnah begitu saja dimangsa angkasa luar. Inilah kelebihan yang luar biasa dari planet biru kita. Seorang profesor berkomentar : ”One of the most striking features of what the sky can return to the earth.”
Begitulah hujan menyerang sebagian bumi malam ini. Aku memesan secangkir coffemix susu lagi. Secangkir coffemix susu dalam dingin yang menusuk ini terasa belum cukup menyamankan tubuhku. Kuliha arloji : Pukul 20.05. Mengapa dia belum datang? Apakah dia akan ingkar? Pikiran aneh-aneh merasuk. Kuputuskan menunggu sepuluh menit lagi. Bila tak juga datang aku akan segera hengkang.
Blue Print
The 50th Carnival
Blue Print
“I SHALL RETURN.” Kalimat Jendral Douglas Mac Arthur berdengung-dengung kuat dalam dadaku. Aku bersiap menyambut ujian kelas XII semester ganjil. Aku ingin membuat a break through nilai-nilai kognitifku. Persiapan fisik, mental dan spiritual memenuhi hari-hariku menjelang hari H ujian semester. Kuputuskan untuk libur menyelesaikan LPJ. Kupikir tak apa, hanya meliburkan diri sekitar dua minggu. Segala cara kutempuh untuk meraih hasil maksimal. Aku tak mau dipencudangi nilai-nilai masa lalu yang tak tahu malu. Apalagi ditambah sebuah sms penyemangat dari Pak Singgih:
Sidratul Muntaha
The 49th Carnival
Sidratul Muntaha
Triliunan doa terpanjat tiap harinya. Untaiannya bergerak vertikal membentuk desain double helix yang tak pernah tahu kapan dan secepat apa ujungnya menyentuh atap langit. Akumulatif untaian indah itu menyapa konstelasi auriga, triangulum, aries, dan berjuta konstelasi lainnya di seantero penjuru langit. Melirik sebentar ke arah bintang-bintang di dalamnya, aldebaran, capella, antares, betelgeaus, lyra, dan masih banyak lagi. Doa itu terus melejit seperti tirai kerang yang berkilap berjuntai-juntai terbalik menuju Sidratul Muntaha. Melesat diiringi fenomena fantastis pengembangan semesta dalam teori Hubble. Dengan mahahebatnya luncuran triliunan doa itu bersemayam di arasy-Nya, Allah, Sang Penguasa Semesta, Sang Maha Keindahan, Sang Maha Pengabul doa.
Heavenly Graces
The 48th Carnival
Heavenly Graces
Sebagai seorang hamba, kita memang tidak punya pilihan di depan takdir Allah yang tersirat seperti ini: kita dilahirkan di atas tanah apa, pada zaman apa, dari etnis apa, dan pada situasi seperti apa. Itulah nasib yang tidak mungkin diubah. Kumulasi itu semua selanjutnya kita sebut lingkungan. Para ahli pendidikan kemudian memberikan porsi yang sangat besar terhadap lingkungan sebagai faktor determinan yang mempengaruhi dan mewarnai pertumbuhan seseorang.
Unstoppable Train
The 47th Carnival
Unstoppable Train
Pagi ini, 17 Agustus 2007, mereka kembali tegak berdiri dengan asa yang sama kadarnya, namun berbeda makna. Pagi ini, mereka berdiri di sisi yang berbeda. Sisi dimana mentari tak ingin sinarnya melampaui daun-daun yang akan menjadi saksi.
Perasaan yang bermacam-macam pasti memenuhi kedalaman hati mereka. Serasa ingin membuncah keluar, melesat-lesat namun terkendali. mereka tak ingin dipuji. Sungguh, mereka tak ingin suatu penghargaan yang berlebih. Ungkapan terimakasihpun akan akan terselimuti rasa permintaan maaf yang tiada hentinya. Maaf karena mereka tak tahu apakah Teladan, gedungnya, ruangnya, tamannya, bunganya, buminya, akan menangis merindu atau menyesal telah mengambil janji dari masing-masing lisan untuk berkesempatan menggulirkan amanah yang mahabesar itu.
Kini tiap mereka akan menjadi setetes air di laut sejarah. Dan berharap… air itu akan selalu mengalir, walaupun tak sederas dulu. Kereta perjuangan mereka takkan berhenti begitu saja. Takkan pernah usai, itu pasti. Lalu tahukah engkau siapa mereka yang selalu tersebutkan? Mereka adalah….KITA, Majelis Perwakilan 2006 – 2007.
Ingin rasanya mengatakan hal ini, pada ‘mereka’ yang lain. mereka yang serupa jiwa namun berlainan jazad. Mereka yang nanti ada di seberang.
Bila suatu ketika engkau berkesempatan berdekat-dekat dengan jiwa kami, rasakanlah bahwa ada jenak-jenak dimana tali kecapi nuranimu bergetar menyenandungkan hakikat hidup di bumi TELADAN. Atau bila kau mendengar dengan telinga hatimu, semoga engkau akan menemukan pesan menuju ketinggian.
08.00, 17 Agustus 07
Setahun, setelah mereka
ditakdirkan terbentuk
Mz g slh ko
The 45th Carnival
Mz g slh ko
Cukup sulit aku menceritakan salah satu karnaval yang terjadi padanya. Mungkin akan terasa ganjil, tak jelas, dan susah dimengerti.
Jauh
The 44th Carnival
Jauh
MENGAPA orang-orang menjadi jauh? Ini memang hanya pertanyaan. Dan pertanyaan ini mungkin tidak untuk semua. Barangkali hanya sebagian kita. Entah bila kenyataannya, itu adalah pertanyaan untuk kita semua. Ya, sebab boleh jadi kebanyakan kita tiba-tiba merasakan suasana itu. Suasana sunyi. Meski hanya seorang saja, perlahan atau tiba-tiba terasa sangat jauh. Orang-orang itu entah siapa. Mereka sangat banyak. Mungkin ayah, ibu, kakak, atau adik. Sahabat-sahabat setia kita atau teman-teman seperjuangan.
Khazanah Kata
The 43rd Carnival
Khazanah Kata
SEGALANYA bermula dari kata. Bahkan kata seorang sastrawan, bila khazanah kata dihapuskan dunia akan tak ada. Kita percaya Tuhan pun karena kata-kata. Ada benarnya jika dikatakan bahwa ‘kata’ merupakan awal dari setiap gerak manusia. Dengan kata bisa dilakukan komunikasi, diketahui pikiran orang perorang, disingkap makna-makna yang implisit dan eksplisit, serta simbol-simbol komunikasi lainnya. Dengan membaca satu ‘kata’ saja seseorang bisa tersenyum, tertawa, sinis, benci, iri, terharu, menangis, kasmaran tak usai-usai. Kata, alhasil dutanya pemikiran, wujud konkrit dari gugusan ide-ide di kepala.
Seharusnya Kemenangan
The 42nd Carnival
Seharusnya Kemenangan
Malam menyelimuti Madinah. Tiba-tiba Rasulullah saw terperanjak dari tidurnya. Ia pun terbangun dalam kondisi yang sangat melelahkan. Seketika Rasul menyebut dan memuji nama Allah, “Subhanallah”. Istrinya, Ummu Salamah mengisahkan malam itu Rasulullah melihat berbagai fitnah dan cobaan yang akan dihadapi umatnya. Sesuatu yang kemudian menjadi kenyataan di sepanjang perjalanan umat Islam dan jaman ke jaman.