25 Agustus 2011, 03.00 WIB.
SAYA belum tidur sejak kemarin. Ini sudah 25 Agustus pukul 03.00 WIB.
Sepanjang malam ini saya melembur mengerjakan LPK (laporan pelaksanaan kegiatan) dari jam 23.30 tanggal 24 Agustus, setelah acara perpisahan di tingkat dusun sekaligus pengajian nuzulul qur’an. Itu nanti belum mengerjakan R-3.
Di hari-hari terakhir, urusan dokumen-dokumen dan kartu kontrol kegiatan KKN mendominasi pikiran. Saya sebagai kormanit kebagian sibuk mengenai dokumen tersebut paling akhir. Dan pagi ini adalah pagi terakhir dalam masa KKN-PPM kami karena hari ini kami ditarik pulang secara resmi oleh universitas.
Sehabis sahur dan sholat Subuh nanti, saya mau istirahat sejenak.
●●●
TAPI saya tidak bisa istirahat, meskipun sangat ingin. Usai sholat, aktivitas selanjutnya adalah piknik sekaligus perpisahan dengan pemuda-pemudi desa. Padahal udara dingin, dan saya mengantuk luar biasa. Tapi demi persatuan dan kesatuan, dengan kaos dan topi KKN beserta jas almamater, saya cuci muka dan turut serta.
Huaduh, di jalan dingin banget. Saya sampai sempat berhenti sebentar untuk menggosok badan supaya agak hangat. Karena tetap saja dingin, ya akhirnya saya biarkan saja saya hidup pagi itu dengan badan menggigil dan gigi bergemelutuk. Doa saya, semoga setelah ini saya gak sakit.
Yang ikut agak banyak, kebanyakan pemudi desa yang tak saya tahu namanya. Dari golongan laki-laki, yang ikut Mas Arif, suami Mbak Erin. Saya mafhum kenapa banyak pemuda yang tak ikut, ya mungkin karena mereka laki-laki: secara sederhana lebih malas. Dari golongan anak kecil, yang ikut cuma Rani. Mata Rani, saya lihat-lihat, masih sipit. Nuansa habis-bangun-tidurnya nampak jelas.
Kami berhenti di dua tempat: telaga Kemuning dan sebuah tempat di bukit di mana kita bisa melihat matahari terbit. Di tempat-tempat itu kami memfoto (dengan peserta yang satu sama lain masih malu-malu), minta difoto, bergaya aneh-aneh, bergaya cupu & lugu, sambil sesekali menggoda Mas Arif dan Mbak Erin ─satu-satunya pasangan yang sudah menikah.
●●●
PAGI setelah piknik bareng adalah pagi yang sibuk. Semuanya bergegas: mandi, packing, nyapu, semuanya.
R-3 akhirnya digarap oleh Cinthya. Dia menawarkan diri, sementara saya diminta packing dulu saja. Baik sekali. J Kata pengantar laporan pelaksanaan kegiatan sub unit digarap oleh Dhani. Di sekitar kami, beberapa anak dari Dusun Jelok (ada Nanang, Bintang, dkk., tapi tak ada Elsen yang biasanya rajin dolan ke pondokan), beberapa anak dari dusun kami (ada Heri, Agus, dan Aan), Mas Arif dan Mbak Erin. Pak Hardi pagi sekali sudah mampir, sebelum berangkat kerja. Setelah itu Ratna dan Wiwik, yang agaknya mau pergi, berhenti sebentar sampai kami pergi.
Beberapa buku tulis sisa hadiah lomba TPA kami berikan saja kepada anak-anak, daripada berat-beratin tas. Saya memberikan buku Ninja saya kepada Aan si Tendangan Slinthir.
Semakin lama kami berkemas rasanya agak aneh, karena kami berat meninggalkan tempat ini. Bapak & Mamak menunggui kami di depan. Bapak, seperti biasa, tak banyak bicara. Mamak mengatakan beberapa hal, seperti galibnya seorang ibu kalau anaknya mau pergi jauh.
Beberapa orang menangis, dan suasananya memang lebih berat untuk tidak mengeluarkan air mata. Mata saya berkaca-kaca, dan saya yang sering merepotkan ini sebenarnya sungkan karena tidak memiliki apa pun untuk diberikan, untuk dikatakan.
“Kami pulang.”
●●●
SEJAK awal catatan ini ditulis dan diposting, saya sudah mengatakan bahwa saya sendiri tidak tahu kapan persisnya catatan ini akan selesai. Di sinilah saya memutuskan mengakhiri. Meskipun masih ada beberapa hal yang masih bisa diceritakan, misal mengenai lucunya hewan-hewan ternak, lagu yang kami ciptakan untuk menertawakan nasib kami, cara pembuatan emping mlinjo Bu Rubiyah yang ajaib, menariknya ide tepung pisang, atau gaulnya dosen pembimbing lapangan kami; catatan ini diputuskan selesai. Sebab utamanya, saya merasa tidak ada passion lagi. Sebab sekundernya lebih banyak. Mungkin cerita-cerita itu masih saya simpan dulu, atau pada akhirnya tak akan pernah saya tulis. Saya mengalir saja, kok.
Dengan 28 nomor catatan ini sebenarnya saya tidak ingin muluk-muluk. Unit kami adalah unit yang gagal, yang sebelumnya berniat melakukan kkn di luar Jawa, lalu pindah ke Kebumen, dan secara terpaksa kkn di wilayah pegunungan yang banyak pohon pisang dan ketelanya selama kira-kira 53 hari 52 malam. Dengan kegagalan + segala apa yang saya ceritakan ─senang, sedih, konyol, seru─ saya ingin menunjukkan, setidaknya untuk diri saya sendiri, Tuhan telah menjatuhkan kami dengan keras ─menjatuhkan kami di kasur yang empuk. Anda tentu punya cerita sendiri-sendiri, punya pilihan takdir sendiri-sendiri. Salam PPM selamanya!













Foto: Berfoto bersama pemudi dusun di Kemuning. H-3 jam sebelum kepulangan. Saya duduk di tengah, di depan adik cantik bernama Rani, memakai kaca mata, jas almamater dan kaos KKN.
